Profil Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA.


Menjembatani Tradisi Pesantren dan Pendidikan Generasi Digital

Dari Drajat, Paciran, Lamongan, menuju Jakarta, lalu kembali mengabdi di tanah kelahiran. Jejak panjang Moh. Shorih Al-Kholid, MA memperlihatkan satu benang merah: pendidikan. Dari aktivitas organisasi alumni, dunia literasi, pengajaran agama, hingga pengembangan lembaga pendidikan Islam, ia terus bergerak pada satu medan yang sama—membentuk manusia melalui ilmu dan karakter.

Di tengah geliat pendidikan Islam di Lamongan, nama Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA dikenal sebagai salah satu sosok yang berada di balik pengembangan Yayasan Pondok Pesantren Cahaya Quran (YPP Cahaya Quran) di Tritunggal, Babat, Lamongan.

Saat ini, ia dikenal sebagai Ketua Yayasan PP Cahaya Quran, sekaligus terlibat langsung dalam proses pendidikan sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMP Cahaya Quran. Situs resmi SMP Cahaya Quran juga menampilkan Shorih Kholid sebagai pengasuh dan menyebut gagasan pendidikannya tentang pentingnya memadukan kecerdasan akademik dengan adab serta nilai-nilai Al-Qur'an.

Namun, melihat sosok Shorih hanya dari posisinya sekarang tentu belum cukup. Jejak digitalnya menunjukkan bahwa kiprah tersebut merupakan bagian dari perjalanan yang telah berlangsung jauh sebelum Cahaya Quran berdiri dan berkembang.

Dari Drajat, Paciran

Moh. Shorih Al-Kholid lahir di Lamongan pada 30 Maret 1984. Data resmi Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta mencatat namanya sebagai Moh. Shorih al-Kholid, MA, dengan asal Lamongan, dan menyebut kelulusan program magisternya pada 11 September 2012.

Sementara itu, arsip lama komunitas alumni Tarbiyatut Tholabah di Jakarta mencatat identitasnya sebagai warga Drajat, Paciran, Lamongan.

Latar belakang Lamongan—khususnya tradisi pesantren di kawasan Pantura—menjadi salah satu lingkungan yang membentuk perjalanan intelektualnya.

Pendidikan pesantren kemudian membawanya berinteraksi dengan dunia pendidikan tinggi dan komunitas mahasiswa di Jakarta. Dalam berbagai jejak lama yang masih tersimpan di internet, tampak bahwa sejak masa mudanya ia sudah aktif dalam organisasi, kegiatan literasi, dan pengelolaan komunitas.

Jakarta dan pengalaman berorganisasi

Salah satu fase penting dalam perjalanan Shorih adalah ketika ia berada di Jakarta sebagai bagian dari komunitas alumni Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Paciran, Lamongan.

Pada 2008, ia terpilih sebagai Ketua Umum WASIAT Jakarta—Wadah Silaturrahim Alumni Tarbiyatut Tholabah—masa bakti 2008–2010. Arsip organisasi mencatat proses pemilihannya dalam Musyawarah Besar II di Bogor.

Posisi tersebut tidak berhenti sebagai jabatan administratif. Arsip kegiatan WASIAT memperlihatkan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas komunitas, termasuk kegiatan keislaman, seni hadrah, silaturahmi alumni, dan pengembangan komunikasi antaralumni. Pada 2010, namanya kembali tercatat sebagai Ketua Wasiat Jakarta.

Pengalaman mengelola organisasi di usia relatif muda itu penting untuk membaca karakter perjalanan Shorih berikutnya.

Ia tidak hanya tumbuh sebagai orang yang belajar agama, tetapi juga sebagai orang yang belajar mengelola manusia, komunitas, program dan komunikasi.

Tradisi pesantren yang bertemu dunia akademik

Perjalanan akademiknya kemudian memperkuat basis keilmuannya.

Dokumen resmi Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta mencatat bahwa Moh. Shorih Al-Kholid, MA merupakan lulusan program S-2 IIQ Jakarta.

Jejak akademiknya juga dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan yang dibuatnya ketika berada dalam lingkungan kajian keislaman.

Salah satunya adalah tulisan berjudul “Merumuskan Visi, Misi dan Tujuan Pesantren”, yang disusun oleh Moh. Shorih Al-Kholid dalam sebuah tugas akademik dengan dosen pengampu Prof. Dr. Jaih Mubarok, MA. Tulisan tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap posisi pesantren dalam menghadapi perubahan zaman dan kompleksitas persoalan pendidikan.

Menariknya, tema tersebut kelak justru menjadi bagian dari kehidupannya.

Apa yang dahulu ditulis sebagai gagasan akademik tentang pesantren kemudian dijalani dalam praktik ketika ia ikut mengembangkan lembaga pendidikan pesantren.

Pendidikan sebagai jalan pengabdian

Jejak Shorih menunjukkan bahwa pendidikan bukan bidang yang baru ia tekuni setelah berada di Cahaya Quran.

Dalam arsip lama, ia terlihat aktif menulis tentang pendidikan, guru, madrasah, pesantren, alumni, dan tokoh-tokoh pendidikan. Blog yang dikelolanya juga memperlihatkan perhatian terhadap kisah guru dan budaya pendidikan pesantren.

Salah satu tulisannya bahkan mengangkat sosok guru matematika di lingkungan Yayasan Tarbiyatut Tholabah. Dari tulisan tersebut terlihat bagaimana ia memandang pendidikan bukan hanya dari sisi mata pelajaran agama, tetapi juga dari pentingnya kualitas guru bidang umum.

Pandangan semacam ini kemudian terlihat kembali dalam konsep pendidikan Cahaya Quran.

Membawa pesantren memasuki era digital

Ada satu tema yang cukup konsisten dalam perjalanan pemikiran Shorih: pesantren tidak boleh berhenti pada pola lama ketika zaman terus berubah.

Pada 2021, ketika masih tercatat sebagai Sekretaris Jenderal IKBAL TABAH, ia menyampaikan pandangan tentang perlunya pesantren beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam pemberitaan NU Online, Shorih menyebut pandemi sebagai momentum bagi pesantren untuk beradaptasi, termasuk menggunakan teknologi informasi sebagai bagian dari pembelajaran. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia dan pemulihan ekonomi pesantren.

Pandangan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kiprahnya di Cahaya Quran.

Sebab, Cahaya Quran tidak hanya dibangun dengan pendekatan pendidikan keagamaan tradisional. Program yang dipublikasikan SMP Cahaya Quran mencakup tahfidz, pembinaan karakter, kitab, bahasa Arab, bahasa Inggris, literasi, hingga penerbitan karya siswa.

Dengan kata lain, gagasan pesantren yang mampu beradaptasi dengan zaman bukan sekadar wacana dalam perjalanan Shorih. Ia kemudian ikut diwujudkan dalam model pendidikan yang dikembangkan di Cahaya Quran.

Dari pengajar menjadi pengelola lembaga

Di SMP Cahaya Quran, perannya bukan hanya berada di belakang meja yayasan.

Data sekolah mencatat Shorih Kholid sebagai guru Pendidikan Agama Islam.

Situs sekolah yang sekarang aktif bahkan menempatkannya sebagai sosok yang memberikan sambutan pengasuh. Pesan yang disampaikannya menekankan bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan bersama kompas spiritual, dan bahwa ilmu seharusnya melahirkan akhlak.

Di sinilah karakter pendidikannya terlihat cukup jelas:

Al-Qur'an tidak hanya untuk dihafalkan, tetapi untuk diwujudkan menjadi perilaku.

Gagasan tersebut sejalan dengan identitas pendidikan SMP Cahaya Quran yang menempatkan Al-Qur'an, akhlak dan prestasi sebagai bagian yang berjalan bersama.

Memuliakan guru sebagai fondasi ilmu

Dalam sebuah upacara Hari Guru Nasional 2023, Shorih menyampaikan pesan yang cukup kuat kepada siswa dan keluarga besar lembaga pendidikan Cahaya Quran.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap guru, orang alim, dan kitab. Ia juga mengingatkan bahwa seseorang pada hakikatnya tetap menjadi murid sepanjang hidupnya dan tidak ada istilah “mantan guru”.

Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi lain dari pemikirannya.

Di tengah pendidikan modern yang semakin menekankan kompetensi, teknologi dan prestasi, ia tetap menempatkan adab kepada guru sebagai bagian penting dari proses memperoleh ilmu.

Tradisi pesantren, dalam pandangannya, bukan sesuatu yang harus dibuang ketika sekolah menjadi modern. Tradisi itu justru dapat menjadi fondasi moral bagi pendidikan modern.

Mengajar, menulis, dan membuat bahan ajar

Peran Shorih di Cahaya Quran juga berkembang ke wilayah literasi dan produksi bahan pembelajaran.

Pada 2025, SMP Cahaya Quran memberitakan penerbitan “Modul Olimpiade PAI Edisi #1” yang disusun oleh Ustadz M. Shorih Al-Kholid. Buku berukuran A4 dengan ketebalan 198 halaman tersebut dirancang sebagai bahan belajar bagi santri yang mengikuti kompetisi Olimpiade Pendidikan Agama Islam.

Ini menarik karena memperlihatkan perubahan peran seorang guru.

Ia tidak hanya mengajar materi yang sudah tersedia, tetapi juga mencoba membuat bahan ajar sendiri berdasarkan kebutuhan siswa.

Bagi sebuah lembaga pendidikan, kemampuan semacam ini penting. Guru bukan hanya pengguna kurikulum, melainkan dapat menjadi pengembang materi dan penulis buku.

Cahaya Quran dan cita-cita generasi Qurani

Di situs resmi PP Cahaya Quran, terdapat tagline:

“Menemani Tumbuh Kembang Generasi Qurani.”

Sementara SMP Cahaya Quran membawa identitas sebagai lembaga yang ingin mencetak generasi Qur'ani, berakhlak dan berprestasi.

Dalam perkembangannya, berbagai kegiatan yang dipublikasikan PP Cahaya Quran memperlihatkan perhatian terhadap pembinaan santri, kepemimpinan pengurus, penguatan karakter, kajian keislaman, literasi, hingga pengembangan fasilitas pondok.

Di balik itu, posisi Shorih sebagai ketua yayasan menempatkannya pada wilayah yang cukup kompleks: menjaga ruh pesantren sekaligus memastikan lembaga pendidikan mampu bergerak mengikuti kebutuhan zaman.

Bukan hanya bicara pendidikan agama

Menarik pula melihat keluasan tema yang muncul dalam jejak digital Shorih.

Blog pribadinya, Ruang Instalasi, memperlihatkan tulisan-tulisan tentang pendidikan, pesantren, guru, kehidupan sosial dan refleksi keseharian. Salah satu tulisannya pada 2023, misalnya, memperlihatkan sikapnya untuk tidak tergesa-gesa mengambil posisi ketika sebuah lembaga pendidikan sedang menghadapi persoalan internal. Ia memilih mempercayai orang-orang yang menurutnya tepat untuk mengurus lembaga tersebut.

Tulisan-tulisan lain memperlihatkan ketertarikannya pada sastra, kisah tokoh, pengalaman hidup, dan dunia pendidikan.

Jejak ini memberi gambaran bahwa dunia Shorih tidak hanya berkutat pada ruang kelas atau mimbar pengajian.

Ia juga menggunakan tulisan sebagai ruang berpikir.

Dari aktivis alumni menjadi penggerak pendidikan

Jika perjalanan itu ditarik menjadi satu garis waktu, terlihat pola yang cukup menarik.

1. Masa muda: tumbuh dalam lingkungan pesantren dan Lamongan.

2. Fase Jakarta: bersentuhan dengan pendidikan tinggi, komunitas alumni, organisasi dan literasi.

3. Fase pengabdian: semakin dekat dengan dunia pendidikan dan pengembangan pesantren.

4. Fase Cahaya Quran: menggabungkan pengalaman organisasi, pendidikan Islam, pengajaran, literasi dan manajemen lembaga.

Karena itu, posisi Shorih di YPP Cahaya Quran dapat dibaca bukan sebagai sebuah titik awal, tetapi sebagai kelanjutan dari perjalanan panjangnya di dunia pendidikan dan pesantren.

Sosok di antara tradisi dan perubahan

Ada satu hal yang tampaknya menjadi ciri perjalanan Moh. Shorih Al-Kholid: ia tidak melihat tradisi pesantren dan modernitas sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.

Di satu sisi, ia berbicara tentang penghormatan kepada guru, adab, Al-Qur'an, kitab dan tradisi keilmuan pesantren.

Di sisi lain, ia berbicara tentang teknologi, pengembangan sumber daya manusia, literasi, kompetisi akademik dan inovasi pendidikan. Pandangan tentang adaptasi pesantren terhadap teknologi juga telah ia sampaikan dalam konteks kebangkitan pesantren pada masa pandemi.

Di Cahaya Quran, dua dunia itu bertemu.

Pesantren tetap menjadi tempat pembentukan karakter dan spiritualitas. Sekolah menjadi ruang pengembangan akademik. Teknologi dan literasi digunakan sebagai sarana. Sementara Al-Qur'an dan akhlak ditempatkan sebagai fondasi.

Penutup

Pada akhirnya, profil Moh. Shorih Al-Kholid, MA bukan semata-mata tentang seorang ketua yayasan.

Ia adalah gambaran tentang seorang santri yang kemudian menjadi organisator, akademisi, guru, penulis, pengembang bahan ajar dan pengelola lembaga pendidikan.

Perjalanan dari Drajat, Paciran, menuju Jakarta, lalu kembali berkiprah di Lamongan memperlihatkan satu hal yang relatif konsisten: pendidikan menjadi benang merah kehidupannya.

Kini, melalui YPP Cahaya Quran, medan pengabdiannya semakin luas. Tantangannya pun tidak ringan. Ia berada di tengah perubahan dunia pendidikan yang sangat cepat—ketika lembaga pesantren dituntut mempertahankan akar tradisinya sekaligus mampu menjawab kebutuhan generasi baru.

Di titik itulah sosok seperti Shorih Kholid menemukan relevansinya. Bukan dengan meninggalkan tradisi pesantren, melainkan dengan berusaha membawanya berjalan bersama zaman.

Sebab bagi seorang pendidik, tugas terbesar barangkali bukan sekadar membuat anak pandai menjawab soal.

Lebih jauh dari itu, tugasnya adalah membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mampu membaca zaman, dan tetap memiliki arah hidup yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur'an.***

Comments