Materi 16: Memuliakan Guru Pintu Terbukanya Pintu Kepahaman
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya
Quran yang dirahmati Allah,
Pernahkah kalian membayangkan seorang ulama besar setingkat Imam
asy-Syafi'i yang memiliki kecerdasan luar biasa, namun begitu berhati-hati
menjaga perasaan dan pendengaran gurunya? [1][2]
Imam asy-Syafi'i pernah menceritakan adab luhurnya ketika sedang berada
di hadapan gurunya, Imam Malik:
"Sungguh, aku membalik lembaran kertas kitabku dengan sangat
perlahan dan lembut di depan Malik, karena rasa segan dan hormatku kepadanya,
agar beliau tidak terganggu oleh suara gesekan kertas tersebut." [1][2]
Bahkan murid beliau, ar-Rabi' bin Sulaiman, juga bertutur: "Demi
Allah, aku tidak berani meminum air seteguk pun sementara asy-Syafi'i sedang
menatap ke arahku, karena rasa takzimku yang sangat besar kepada beliau."
[1][2]
Para ulama memahami secara mendalam bahwa keterbukaan pintu ilmu dan
kepahaman di dalam dada berakar kuat pada seberapa besar rasa takzim dan
penghormatan seorang murid kepada gurunya [1][3].
Teman-teman santri yang dirahmati Allah,
Memuliakan orang yang berilmu dan para pengajar adalah bagian tak
terpisahkan dari ajaran Islam dan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ [4][5].
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadisnya: «لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ»
"Bukanlah termasuk golongan umatku orang yang tidak memuliakan yang
lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan
tidak mengetahui hak orang yang berilmu (guru) di antara kami." [4][6]
Para ulama menegaskan kaidah penting: "Seseorang tidak akan
sampai pada hakikat ilmu melainkan dengan adab dan penghormatan, dan seseorang
tidak akan gugur (gagal) melainkan karena ia meninggalkan adab dan
penghormatan." [1][7]
Bagaimana santri PP Cahaya Quran membuka pintu kepahaman melalui
pemuliaan kepada kyai dan asatidzah? Mari kita amalkan 3 langkah utama ini:
- Pertama, menjaga adab fisik dan pandangan di depan ustadz: Saat talaqqi Al-Qur'an atau kajian kitab, duduklah dengan tegak,
jangan menyandarkan punggung, jangan menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa
hajat, serta tataplah guru dengan pandangan penuh rasa hormat dan
mengambil faidah [1][2].
- Kedua, memuliakan nama dan keberadaan guru di mana saja: Jangan pernah memanggil nama ustadz atau musyrif dengan panggilan
namanya saja tanpa gelar penghormatan. Jangan pula membicarakan kekurangan
guru bersama teman di kamar asrama [2][3].
- Ketiga, patuh dan tanggap terhadap arahan asatidzah: Ketika guru memberikan tugas, arahan piket, atau menunjuk tugas
kebaikan, sambutlah dengan ucapan yang baik dan segera laksanakan tanpa
menunda-nunda apalagi membantah dengan suara tinggi [3][8].
Teman-teman santri yang saya banggakan,
Kunci kepahaman Al-Qur'an dan kitab-kitab kuning tidak terletak pada
tebalnya kacamata yang kita pakai, melainkan pada keridhaan hati para guru yang
membimbing kita setiap waktu [1][3]. Betapa banyak santri yang hafalannya cepat
selesai namun hilang tanpa bekas karena hatinya sombong kepada gurunya; dan
betapa banyak santri yang bersahaja namun ilmunya menyinari dunia berkat
takzimnya kepada para pembimbingnya [1][7].
Muliakanlah guru-guru kita hari ini, niscaya Allah lapangkan dada kita
untuk memahami ayat-ayat dan ilmu-Nya.
Marilah kita berdoa bersama-sama:
اللَّهُمَّ اجْزِ عَنَّا شُيُوخَنَا وَمُعَلِّمِينَا خَيْرَ مَا جَزَيْتَ
بِهِ مُعَلِّمًا عَنْ أُمَّتِهِ، وَارْزُقْنَا أَدَبَ التَّعَلُّمِ، وَافْتَحْ
لَنَا فُتُوحَ الْعَارِفِينَ.
(Ya Allah, berikanlah balasan kepada guru-guru dan pembimbing kami
dengan sebaik-baik balasan yang Engkau berikan kepada seorang pengajar dari
umatnya, anugerahkanlah kepada kami adab menuntut ilmu, dan bukakanlah untuk
kami pemahaman orang-orang yang arif.)
Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Sources:
[1] al-Tarbiya al-Islamiya Usuluha wa Tatawwuruha fi al-Bilad al-Arabiya — vol.
1, p. 223
[2] Tadhkirat al-Sami wal-Mutakallim fi Adab al-Alim wal-Mutaallim — vol. 1, p.
163
[3] al-Mawsua al-Fiqhiyya al-Kuwaytiyya — vol. 28, p. 334
[4] Unknown citation
[5] Tabsit al-Aqaid al-Islamiyya — vol. 1, p. 287
[6] Unknown citation
[7] Abjad al-Ulum — vol. 1, p. 78
[8] Madkhal ila Ulum al-Sharia — vol. 1, p. 26

Comments
Post a Comment