Materi 17: Adab Berbicara dan Berjalan di Depan Guru
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ
الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya
Quran yang dirahmati Allah,
Pernahkah kalian membayangkan bagaimana ketatnya para ulama menjaga tata
krama dalam langkah kaki dan lisannya saat bersama guru mereka? [1][2]
Dikisahkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, seorang ulama fikih bernama
Abul Hasan al-Karkhi menceritakan pengalamannya saat berjalan mendampingi sang
guru, yaitu al-Qadhi Abu Ya'la—seorang ulama besar mazhab Hanbali di zamannya
[1]. Di tengah perjalanan, sang guru menoleh dan bertanya: "Wahai
anakku, jika engkau berjalan bersama orang yang engkau agungkan (gurumu), di
manakah posisimu berjalan?"
Al-Karkhi menjawab dengan jujur: "Aku tidak mengetahuinya, wahai
guruku."
Maka al-Qadhi Abu Ya'la mengajarkan sebuah adab yang sangat mendalam: "Berjalanlah
di sebelah kanannya agak ke belakang, posisikanlah gurumu seperti imam dalam
shalat, dan kosongkanlah sisi kirinya. Sehingga jika gurumu perlu membuang
kotoran atau sesuatu yang mengganggu ke arah kiri, punggungmu tidak
menghalanginya." [1][3]
Bahkan ulama hadis Bisyir bin al-Harits menceritakan bahwa seorang
penuntut ilmu pernah bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarak mengenai suatu
hadis sambil berjalan tergesa-gesa. Maka Ibnu al-Mubarak menegurnya seraya
berkata: "Ini bukanlah bagian dari mengagungkan ilmu!" [2]
Teman-teman santri yang dirahmati Allah,
Menjaga kesantunan lisan dan gerak tubuh di hadapan para pewaris nabi
adalah cerminan dari akhlak Al-Qur'an [4][5].
Sebagaimana firman Allah: ﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ
عَظِيمٍ﴾
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang
agung." [6][7]
Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'limul Muta'allim menegaskan: "Termasuk
bentuk menghormati guru adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk di
tempat duduknya, dan tidak memulai pembicaraan melainkan atas izinnya."
[5]
Bagaimana adab santri PP Cahaya Quran saat berbicara dan berjalan di
dekat para asatidzah? Mari kita amalkan 3 panduan adab praktis berikut:
- Pertama, adab bertutur kata dengan suara yang lembut dan santun: Jangan memotong ucapan ustadz saat beliau sedang berbicara atau
menjelaskan materi [8][9]. Rendahkan nada suara kita di hadapan guru,
jangan memanggil beliau dari kejauhan dengan teriakan, dan gunakan sapaan
yang mulia seperti "Ustadzi" atau "Kyai"
[8][10].
- Kedua, adab posisi saat berjalan bersama guru: Jangan berjalan mendahului ustadz di lorong asrama atau jalan
setapak pondok [5]. Berjalanlah di samping kanan atau sedikit di belakang
beliau [1][3]. Hanya boleh mendahului jika berada di jalan yang gelap di waktu
malam atau medan yang berbahaya untuk memastikan keselamatan dan
kenyamanan guru [2][3].
- Ketiga, adab saat berpapasan di lingkungan pesantren: Apabila berpapasan dengan kyai atau ustadz, berhentilah sejenak
dari melangkah, menepi dengan tertib, tundukkan badan dengan rasa hormat,
dan ucapkan salam dengan wajah yang berseri-seri [11][2]. Jangan berlari
kencang menyerobot jalan di hadapan pendidik kita.
Teman-teman santri yang saya cintai karena Allah,
Langkah kaki dan tata bahasa seorang santri adalah etalase akhlak
Al-Qur'an yang ia bawa di dalam dadanya [5][10]. Menundukkan langkah dan
melembutkan suara di hadapan guru bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tanda
kemuliaan jiwa dan kunci utama mengalirnya ilmu yang penuh berkah [8][5].
Mari kita hiasi setiap gerak langkah dan ucapan kita di lingkungan
pondok dengan adab yang sempurna.
Marilah kita berdoa bersama-sama:
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَوَفِّقْنَا لِحُسْنِ
الْأَدَبِ مَعَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.
(Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, berikanlah taufik kepada
kami untuk beradab indah kepada para ahli ilmu dan Al-Qur'an, serta jadikanlah
kami para penyeru kebaikan yang senantiasa mendapat petunjuk.)
Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Sources:
[1] Mawsuat al-Akhlaq — vol. 1, p. 328
[2] al-Akhlaq al-Zakiyya fi Adab al-Talib al-Mardiyya — vol. 1, p. 173
[3] Tadhkirat al-Sami wal-Mutakallim fi Adab al-Alim wal-Mutaallim — vol. 1, p.
110
[4] Risala fi al-Adab li-Ashab al-Talab — vol. 1, p. 47
[5] Madkhal ila Ulum al-Sharia — vol. 1, p. 26
[6] al-Lulu wal-Marjan fi Mahasin Din al-Islam — vol. 1, p. 74
[7] Tabsit al-Aqaid al-Islamiyya — vol. 1, p. 287
[8] al-Mawsua al-Fiqhiyya al-Kuwaytiyya — vol. 29, p. 87
[9] Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid — vol. 192, p. 13
[10] Hilyat Talib al-Ilm — vol. 1, p. 161
[11] Bulugh al-Ghaya min Tahdhib Bidayat al-Hidaya — vol. 1, p. 113

Comments
Post a Comment