Materi 18: Menjaga Hati Guru dari Ketersinggungan dan Kekecewaan

Materi 18: Menjaga Hati Guru dari Ketersinggungan dan Kekecewaan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian merenungkan sebuah kisah agung yang diabadikan langsung di dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi, antara Nabi Musa dan gurunya, Nabi Khidhir? [1]

Ketika Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidhir, sang guru telah berpesan agar beliau bersabar dan tidak tergesa-gesa memprotes apa yang belum dipahami [1]. Namun ketika terjadi perbedaan pandangan yang berulang, timbullah rasa tidak nyaman dan ketidaksesuaian adab menuntut ilmu, hingga akhirnya sang guru dengan berat hati berkata:

"Hadzâ firâqu bainî wa bainik" ("Inilah perpisahan antara aku dan engkau"). [1]

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ketika hati seorang guru telah merasa tersinggung, terbebani, atau kecewa oleh sikap muridnya, maka seketika itu pula pintu aliran ilmu, bimbingan, dan rahasia kepahaman akan tertutup rapat [1][2].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu' menegaskan satu kaidah emas bagi penuntut ilmu: "Termasuk adab terpenting seorang santri adalah senantiasa berusaha mencari keridhaan hati gurunya, menjaga perasaannya, serta menjauhi hal-hal yang dapat membuatnya kecewa atau marah." [3][2]

Dan dalam sebuah bait syair hikmah diingatkan:

 إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا ... لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيبَهُ ... وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا

"Sesungguhnya guru dan dokter, keduanya tidak akan tulus memberi nasihat dan bimbingan jika mereka tidak dimuliakan. Maka bersabarlah menanggung penyakitmu jika engkau kasar kepada doktermu, dan puaslah berada dalam kebodohan jika engkau menyakiti hati gurumu." [4][2]

Bahkan para ulama salaf terdahulu, sebelum mereka melangkahkan kaki menuju halaqah ilmu, mereka kerap bersedekah dan berdoa: "Ya Allah, tutuplah aib guruku dari pandanganku, dan janganlah Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dari hatiku." [5]

Bagaimana cara santri PP Cahaya Quran menjaga hati asatidzah dan musyrif agar tidak tersinggung? Ada 3 penerapan nyata dalam keseharian asrama dan madrasah:

  • Pertama, menjaga komitmen dan kesungguhan setoran hafalan: Salah satu hal yang paling mengecewakan hati seorang musyrif Al-Qur'an adalah ketika melihat santri binaannya bermalas-malasan, tidak menyiapkan setoran dengan baik, atau sengaja kabur dari halaqah. Kesungguhan kita menghafal adalah hadiah terindah yang melapangkan hati guru [6][7].
  • Kedua, tidak membantah teguran dengan ekspresi masam atau nada tinggi: Apabila ustadz menegur kedisiplinan kita, jangan membantah dengan nada menantang atau menunjukkan wajah kesal di depan teman-teman [4][6]. Terimalah dengan menunduk, meminta maaf, serta segera memperbaiki kesalahan [4].
  • *Ketiga, segera meminta maaf jika berbuat salah (istirdha'):* Jika kita merasa pernah bersikap kurang sopan, terlambat tanpa kabar, atau melanggar aturan, jangan biarkan ustadz menyimpan rasa kecewa di hatinya berhari-hari. Datanglah menghadap secara pribadi dengan rendah hati, cium tangannya, dan mintalah keridhaan serta doanya [4][2].

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Keberkahan ilmu tidak diukur dari seberapa banyak kitab yang kita tamatkan, melainkan dari seberapa tulus doa kebaikan yang dipanjatkan oleh guru kita di dalam keheningan malamnya [8][9]. Satu tetes luka di hati guru karena keangkuhan lisan atau sikap kita sudah cukup untuk mencabut manisnya pemahaman dari dada kita [2][9].

Jagalah hati para pendidik kita, karena keridhaan mereka adalah pintu terbukanya keridhaan Allah Ta'ala [3][10].

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِضَا مُعَلِّمِينَا، وَجَنِّبْنَا سَخَطَهُمْ، وَاجْعَلْ قُلُوبَهُمْ رَاضِيَةً عَنَّا، وَبَارِكْ لَنَا فِي عُلُومِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ.

(Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keridhaan guru-guru kami, jauhkanlah kami dari kemurkaan mereka, jadikanlah hati mereka senantiasa ridha kepada kami, serta berkahilah kami dalam ilmu-ilmu dan cahaya kebaikan mereka.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sources:
[1] al-Jami al-Sahih lil-Sunan wa al-Masanid — vol. 8, p. 379
[2] Lawami al-Durar fi Hatk Astar al-Mukhtasar — vol. 4, p. 125
[3] al-Majmu Sharh al-Muhadhdhab — vol. 1, p. 36
[4] al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam — vol. 1, p. 223
[5] Bulugh al-Ghaya min Tahdhib Bidayat al-Hidaya — vol. 1, p. 113
[6] Liqa al-Bab al-Maftuh — vol. 213, p. 7
[7] Taqrib Fatawa Ibn Taymiyya — vol. 1, p. 33
[8] al-Akhlaq al-Zakiyya fi Adab al-Talib al-Mardiyya — vol. 1, p. 154
[9] Fayd al-Qadir — vol. 3, p. 273
[10] Muntalaqat Talib al-Ilm — vol. 1, p. 274

 

Comments