Materi 19: Ketaatan kepada Pembina Kamar dan Pengurus Asrama
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya
Quran yang dirahmati Allah,
Pernahkah kalian membayangkan sebuah pasukan besar kaum muslimin yang di
dalamnya terdapat sahabat-sahabat mulia dan senior seperti Abu Bakar
ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab, namun dipimpin oleh seorang anak muda
berusia belasan tahun bernama Usamah bin Zaid?
Sebelum wafat, Rasulullah ﷺ mengangkat Usamah bin Zaid—yang usianya hampir sebaya dengan
santri tingkat lanjutan—menjadi panglima tertinggi pasukan militer. Apakah para
sahabat senior memprotes atau merasa gengsi dipimpin oleh pemuda belia
tersebut? Sama sekali tidak!
Para sahabat dengan penuh kerendahan hati tunduk, mendengar, dan
mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh Usamah bin Zaid semata-mata demi
menjalankan amanah dan ketaatan kepada ketetapan Rasulullah ﷺ.
Kisah agung ini menjadi teladan abadi bahwa kepatuhan kepada pemimpin
bukan dilihat dari senioritas usianya, melainkan dari amanah dan mandat
kepemimpinan yang sedang ia emban demi keteraturan bersama [1][2].
Teman-teman santri yang dirahmati Allah,
Di dalam kehidupan berjamaah dan berasrama di pesantren, ketaatan kepada
pemegang aturan (Ulil Amri) dalam hal kebaikan adalah pondasi
keteraturan dan ketenangan hidup bersama [1][3].
Allah Ta'ala berfirman: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul(-Nya), dan Ulil Amri (pemegang urusan) di antara kalian." [1][3]
Dan Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang
sahih: «إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»
"Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah pada perkara-perkara yang
makruf (kebaikan)." [4][5][6]
Para pembina kamar, musyrif, dan pengurus Organisasi Santri adalah perpanjangan
tangan dari para Kyai dan Dewan Asatidzah untuk menjaga ketertiban pondok. Taat
kepada instruksi mereka dalam disiplin ibadah dan kebersihan asrama hakikatnya
adalah bagian dari ketaatan kepada syariat dan para guru kita [1][2].
Bagaimana membuktikan kepatuhan yang tulus kepada pengurus asrama dan
pembina kamar di PP Cahaya Quran? Ada 3 penerapan nyata yang wajib kita
laksanakan:
- Pertama, segera merespons panggilan dan bel pengurus: Ketika bagian keamanan atau ketua kamar membangunkan tidur subuh,
memanggil untuk shalat berjamaah, atau mengumpulkan santri di serambi,
segeralah beranjak bangun tanpa menunda-nunda apalagi berpura-pura masih
terlelap.
- Kedua, mematuhi jadwal pembagian tugas (piket) asrama: Laksanakan tugas piket kamar mandi, menyapu lorong, dan membuang
sampah dengan rasa penuh tanggung jawab, tanpa perlu diancam atau diawasi
terus-menerus oleh pengurus.
- Ketiga, menerima sanksi disiplin dengan lapang dada dan adab yang
baik: Apabila kita lalai dan mendapatkan hukuman takzir edukatif dari
bagian peribadatan atau keamanan pondok, jangan mendengus kesal,
membanting pintu, atau menggerutu di belakang pengurus. Sadarilah bahwa
aturan ditegakkan demi membentuk mental santri yang tangguh dan teratur
[1][7].
Teman-teman santri yang saya banggakan,
Pesantren tidak akan pernah bisa melahirkan penghafal Al-Qur'an yang
hebat tanpa adanya kedisiplinan hidup berjamaah [1][3]. Belajar taat kepada
pengurus kamar hari ini adalah latihan dasar untuk menjadi pribadi yang siap
memimpin dan siap dipimpin di masa depan.
Hargai lelahnya para musyrif dan pengurus yang menjaga tidur kita dan
mengorbankan waktu istirahat mereka demi keteraturan pondok tercinta.
Marilah kita berdoa bersama-sama:
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَوَفِّقْنَا لِلسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ
فِي مَعْرُوفِ دِينِكَ، وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا فِي هَذَا الْمَعْهَدِ مَلِيئَةً
بِالْبَرَكَةِ.
(Ya Allah, lembutkan dan persatukanlah hati kami, perbaikilah hubungan
di antara kami, berikanlah taufik kepada kami untuk senantiasa mendengar dan
taat dalam kebaikan agama-Mu, serta jadikanlah kehidupan kami di pondok
pesantren ini penuh dengan keberkahan.)
Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Sources:
[1] al-Minah al-Ilahiyya fi Sharh al-Fatwa al-Hamawiyya — vol. 2, p. 171
[2] Sharh Sahih al-Bukhari — vol. 1, p. 205
[3] Mutطلبات al-Muhafaza ala Nimat al-Amn
wal-Istiqrar — vol. 1, p. 15
[4] Sabil al-Muhtadin ila Sharh al-Arbain al-Nawawiya — vol. 1, p. 303
[5] Masabih al-Sunnah — vol. 3, p. 3
[6] al-Imama al-Uzma — vol. 1, p. 75
[7] Sharh Sunan Ibn Majah lil-Harari = Murshid Dhawi al-Hija wa al-Haja ila
Sunan Ibn Majah — vol. 16, p. 466

Comments
Post a Comment