Materi 2: Menjadi Sahabat Al-Qur'an: Bukan Sekadar Menghafal, tapi Mengamalkan

Materi 2: Menjadi Sahabat Al-Qur'an: Bukan Sekadar Menghafal, tapi Mengamalkan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Tahukah kalian bagaimana generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, belajar dan berinteraksi dengan Al-Qur'an?

Seorang tabi'in terkemuka, Abu Abdirrahman as-Sulami, menceritakan kisah luar biasa dari para sahabat pemuka Al-Qur'an seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud [1][2]. Beliau mengisahkan:

"Dahulu, apabila mereka belajar sepuluh ayat Al-Qur'an dari Nabi ﷺ, mereka tidak berpindah ke sepuluh ayat berikutnya sebelum memahami makna ilmu dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya." Mereka pun berkata: "Maka kami mempelajari Al-Qur'an, ilmu, dan amal secara bersamaan." [1][2]

Karena ketelitian dalam mengamalkan isi Al-Qur'an inilah, sahabat Abdullah bin Umar sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menyempurnakan pembelajarannya terhadap surah Al-Baqarah [1][3]. Bagi para sahabat, Al-Qur'an bukan sekadar bacaan di lisan, melainkan pedoman hidup yang tercermin nyata dalam setiap gerak-gerik mereka [4][5].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Tujuan utama Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Ta'ala adalah agar ayat-ayat-Nya direnungkan maknanya lalu diwujudkan dalam amal perbuatan nyata [6].

Allah berfirman: ﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾ "

Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." [6]

Menjadi sahabat sejati Al-Qur'an (Shahibul Qur'an) berarti menjadikan ayat yang kita hafal sebagai cermin akhlak kita sehari-hari di asrama dan madrasah [4].

Bagaimana kita mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan nyata santri? Ada 3 penerapan praktis yang harus kita buktikan bersama:

  • Pertama, mengamalkan adab lisan sesuai Al-Qur'an: Ketika kita menghafal ayat-ayat tentang larangan mencela dan bergunjing, maka lisan seorang santri penghafal Al-Qur'an tidak boleh lagi mengejek nama orang tua teman, memanggil dengan gelar buruk, atau menyebarkan aib sesama santri di kamar.
  • Kedua, mengamalkan perintah shalat dan kedisiplinan: Al-Qur'an memerintahkan kita untuk mendirikan shalat. Maka bukti nyata kita mengamalkannya adalah bergegas menuju masjid begitu adzan berkumandang, merapikan shaf shalat, serta tidak menunda-nunda wudhu saat waktu tahajjud tiba.
  • Ketiga, menghadirkan sifat ikhlas dan saling tolong-menolong (ta'awun): Jadikan ayat-ayat Al-Qur'an pendorong bagi kita untuk gemar membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, saling berbagi makanan kiriman dari orang tua, dan tidak berlaku curang dalam kehidupan bersama di pondok.

Teman-teman santri yang saya cintai karena Allah,

Al-Qur'an yang hanya tertahan di tenggorokan tanpa menyentuh hati dan perbuatan tidak akan mendatangkan keselamatan [4][5]. Sungguh menyedihkan jika lisan kita fasih membaca surah Ar-Rahman, namun sikap kita kasar kepada teman sekamar; atau hafalan kita bertambah juznya, namun kemalasan ibadah kita kian membesar.

Jadilah santri yang saat orang lain melihat tingkah laku kita, mereka teringat pada kemuliaan isi Al-Qur'an.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتْلُوهُ وَيَعْمَلُ بِمَا فِيهِ.

(Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an yang agung sebagai penyejuk hati kami, cahaya di dada kami, pelenyap kesedihan kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang membaca serta mengamalkan apa yang ada di dalamnya.)

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

·       Sources:
[1] al-Israiliyat wal-Mawduat fi Kutub al-Tafsir — vol. 1, p. 29
[2] Majmu al-Fatawa — vol. 13, p. 402
[3] Tafsir al-Qurtubi = al-Jami li-Ahkam al-Quran — vol. 1, p. 39
[4] Tahqiq al-Wisal bayn al-Qalb wa al-Quran — vol. 1, p. 49
[5] Rayy al-Zaman bi-Majalis Shuab al-Iman — vol. 1, p. 69
[6] al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun — vol. 1, p. 36

·        

Comments