Materi 3: Adab Memegang dan Menjaga Mushaf Al-Qur'an

Materi 3: Adab Memegang dan Menjaga Mushaf Al-Qur'an

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

(Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kepada-Nya kita memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para nabi dan rasul, beserta keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Adapun sesudah itu.)

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian mendengar kisah keteladanan dari seorang sahabat mulia, yaitu Ikrimah bin Abi Jahal?

Dikisahkan oleh para ulama, setiap kali beliau mengambil mushaf Al-Qur'an, tubuhnya bergetar karena rasa takzim dan takut kepada keagungan firman Allah. Beliau mengambil mushaf tersebut dengan kedua tangannya, lalu mendekapkannya ke wajah dan dadanya seraya menangis tersedu-sedu dan berulang kali berucap: "Kalam Rabbiy... Kalam Rabbiy..." ("Ini adalah firman Tuhanku... Ini adalah firman Tuhanku...") [1][2].

Bagi generasi sahabat dan para ulama terdahulu, mushaf Al-Qur'an bukanlah sekadar tumpukan kertas bertinta, melainkan lembaran suci yang memuat firman Allah Yang Maha Agung, sehingga tidak diperlakukan sembarangan melainkan dengan penuh penghormatan dan pemuliaan [1][3].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Memuliakan mushaf Al-Qur'an adalah bagian mendasar dari ketakwaan hati seorang mukmin.

Allah Ta'ala berfirman: ﴿ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." [4][3]

Bahkan dalam surat Al-Waqi'ah, Allah menegaskan kesucian Al-Qur'an: ﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾

"Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan." [5]

Maka sebagai santri penghafal Al-Qur'an di pondok tercinta ini, bagaimanakah bentuk adab nyata kita dalam memegang dan menjaga mushaf? Mari kita terapkan 3 adab utama ini:

  • Pertama, bersuci sebelum memegang dan membawanya: Mayoritas ulama menekankan keharusan berwudhu ketika hendak menyentuh mushaf Al-Qur'an [6][5]. Bawa mushaf dengan posisi terhormat—mendekapnya di dada atau memegangnya dengan tangan kanan di bagian atas tubuh—bukan menjinjingnya di bawah pinggang sejajar dengan lutut apalagi menyentuh lantai.
  • Kedua, meletakkan mushaf di tempat yang tinggi dan layak: Jangan pernah meletakkan mushaf langsung di lantai tanpa alas [7][8]. Gunakan meja baca (rihal), sajadah bersih, atau letakkan di atas rak lemari asrama. Jangan sekali-kali menaruh benda lain—seperti buku catatan, pulpen, botol minum, apalagi pakaian kotor—di atas mushaf Al-Qur'an [3][8].
  • Ketiga, merawat fisik mushaf agar tidak rusak: Jangan melipat sudut halaman mushaf secara kasar, jangan membasahi jari dengan air liur saat membalik lembaran, dan jangan biarkan mushaf tergeletak terbuka begitu saja setelah selesai halaqah. Jika ada sampul yang robek, segera rapikan dan perbaiki dengan cermat.

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Sikap kita terhadap lembaran mushaf mencerminkan penghormatan kita kepada Sang Pemilik Kalam, Allah Subhanahu wa Ta'ala [3]. Bagaimana mungkin berkah hafalan Al-Qur'an akan meresap ke dalam dada kita, jika kita masih melempar mushaf ke atas kasur atau menaruhnya sembarangan di lantai asrama?

Mari kita jaga mushaf kita dengan penuh kasih sayang dan pemuliaan, agar ayat-ayat yang tertulis di dalamnya menjadi penuntun keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ مُعَظِّمِي كِتَابِكَ، وَارْزُقْنَا أَدَبَ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

(Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengagungkan kitab-Mu, anugerahkanlah kepada kami adab para pembawa Al-Qur'an, dan wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Comments