Materi 4: Pentingnya Memperbaiki Niat Muraja'ah Setiap Hari

Materi 4: Pentingnya Memperbaiki Niat Muraja'ah Setiap Hari

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian membayangkan rutinitas manusia termulia, Baginda Nabi Muhammad ﷺ, di bulan suci Ramadhan?

Dikisahkan dalam riwayat yang sahih, setiap malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ bukan untuk membawa wahyu hukum baru, melainkan untuk melakukan mudarasah—yakni menyimak dan mengulang kembali (muraja'ah) hafalan Al-Qur'an bersama beliau [1].

Jika seorang Nabi yang telah dijamin makshum dan hafalannya dijaga langsung oleh Allah tetap meluangkan waktu khusus untuk mengulang ayat-ayat-Nya, lalu bagaimana dengan kita para santri yang hafalannya masih sering lupa dan tersendat? [1]

Kisah agung ini mengajarkan kepada kita bahwa muraja'ah bukanlah beban tambahan, melainkan sarana menjaga kedekatan batin seorang hamba dengan firman Rabb-nya setiap hari [1][2].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Karakter Al-Qur'an sangat unik; ia sangat cepat hilang dari dada orang yang menghafalnya apabila tidak dijaga secara berkesinambungan [2][3].

Rasulullah ﷺ bersabda: «تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا»

"Jagalah (ulang-ulangilah) Al-Qur'an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya." [4][1][5]

Para ulama menjelaskan hikmah di balik cepat hilangnya hafalan ini: agar seorang penghafal Al-Qur'an selalu terikat dan tidak pernah terputus hubungannya dengan Al-Qur'an seumur hidupnya [2]. Oleh karena itu, niat muraja'ah harus senantiasa dibersihkan setiap hari agar tidak berubah menjadi sekadar beban setoran [6].

Bagaimana membiasakan niat muraja'ah yang benar di pondok pesantren? Berikut 3 penerapan konkretnya:

  • Pertama, niatkan muraja'ah sebagai bentuk syukur dan munajat: Jangan mengulang hafalan hanya karena takut disidang musyrif atau takut dijatuhi hukuman takzir. Duduklah di pojok masjid dengan niat bahwa setiap ayat yang diulang adalah sepuluh kebaikan dan bentuk dialog mesra kita dengan Allah Ta'ala.
  • Kedua, memiliki target wirid harian yang disiplin (Hizb Al-Qur'an): Buatlah pembagian waktu yang jelas; kapan waktu ziyadah (menambah hafalan baru) dan kapan waktu muraja'ah (mengulang hafalan lama) [5][7]. Jangan pernah merasa puas hanya dengan menambah hafalan baru sementara hafalan juz sebelumnya dibiarkan rapuh dan terlupakan [5].
  • Ketiga, melantunkan muraja'ah di dalam shalat sunnah: Cara paling kokoh untuk menguji dan menguatkan muraja'ah adalah membacanya saat shalat sunnah rawatib, dhuha, maupun qiyamul lail di sepertiga malam terakhir [4][8].

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Menghafal Al-Qur'an itu membutuhkan waktu beberapa tahun, namun menjaga hafalan tersebut adalah amanah seumur hidup. Lelahnya mengulang-ulang satu ayat hari ini adalah saksi cinta kita kepada kalam Allah yang kelak akan menaikkan derajat kita setingkat demi setingkat di surga-Nya.

Jangan biarkan satu hari pun berlalu di asrama tanpa membuka kembali lembaran hafalan yang telah Allah titipkan di dada kita.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّينَا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا.

(Ya Allah, ingatkanlah kami terhadap apa yang kami lupa dari Al-Qur'an, ajarkanlah kepada kami apa yang belum kami ketahui darinya, dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan membacanya di sepanjang malam dan penghujung siang dengan cara yang membuat-Mu ridha kepada kami.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Sources:
[1] Sharh Riyad al-Salihin — vol. 94, p. 8
[2] Mabahith fi Ilm al-Qiraat ma Bayan Usul Riwayat Hafs — vol. 1, p. 28
[3] Mawqi al-Islam Su'al wa Jawab — vol. 8, p. 592
[4] al-Inaya bil-Quran al-Karim fi al-Ahd al-Nabawi al-Sharif — vol. 1, p. 55
[5] Sharh Riyad al-Salihin li-Ibn Uthaymin — vol. 4, p. 655
[6] Mabahith fi Ilm al-Qiraat ma Bayan Usul Riwayat Hafs — vol. 1, p. 21
[7] Durus li al-Shaykh Muhammad al-Mukhtar al-Shinqiti — vol. 47, p. 18
[8] al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun — vol. 1, p. 49

 

Comments