Materi 6: Adab Sebelum Ilmu: Mengapa Santri Harus Berakhlak Dulu?
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ
نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang
dirahmati Allah,
Pernahkah
kalian mendengar wasiat berharga dari seorang ibu yang luar biasa, ibunda dari
Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki?
Ketika
Imam Malik masih kecil dan hendak berangkat menuntut ilmu, ibundanya memakaikan
pakaian terbaik, mengenakan surban di kepalanya, lalu memberikan satu pesan
yang mengubah jalan hidup beliau [1][2]. Sang ibunda berpesan:
"Pergilah
engkau kepada Rabi'ah ar-Ra'yi (seorang ulama besar Madinah), lalu pelajarilah
adab dan perilakunya sebelum engkau mempelajari ilmunya!" [1][2]
Bahkan
ulama besar tabi'ut tabi'in, Abdullah bin al-Mubarak, menegaskan prinsip
hidupnya dengan berkata: "Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun,
dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun." [3][4]
Para
salafush shalih sangat menyadari bahwa ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu
bakar, atau jasad tanpa ruh; tidak akan membawa manfaat, melainkan kehancuran
[3][1].
Teman-teman
santri yang dirahmati Allah,
Misi
utama diutusnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ
ke muka bumi ini adalah untuk menanamkan pondasi keluhuran akhlak sebelum
mengajarkan berbagai syariat dan hukum [5][6].
Rasulullah
ﷺ bersabda: «إِنَّمَا
بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ» "Sesungguhnya
aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." [5][6]
Ulama
besar, Yusuf bin al-Husain, pernah mengatakan: "Dengan adab, engkau
akan memahami ilmu." [3][1] Adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah
airnya. Jika wadahnya kotor atau pecah, bagaimana mungkin air yang suci dan
jernih bisa tertampung di dalamnya?
Mengapa
santri PP Cahaya Quran harus berakhlak terlebih dahulu? Berikut 3 pengamalan
adab yang wajib kita jaga dalam keseharian:
- Pertama, adab terhadap
proses belajar:
Menghadiri halaqah dan majelis ilmu dengan pakaian yang suci, duduk dengan
tegak dan sopan, serta tidak bersandar malas atau menatap ke sana ke mari
saat ustadz sedang membacakan atau menerangkan ayat [1][2].
- Kedua, adab terhadap teman
sebaya:
Santri yang cerdas dan hafalannya lancar tidak boleh sombong, merendahkan
teman yang lambat menghafal, atau merasa dirinya lebih mulia dibanding
yang lain [7][8]. Ilmu yang benar melahirkan kerendahan hati (tawadhu'),
bukan kesombongan [8][9].
- Ketiga, adab terhadap
lingkungan asrama: Menjaga kebersihan kamar, merapikan sandal,
tidak mengambil barang orang lain tanpa izin, dan menghormati kakak kelas
serta menyayangi adik kelas [10]. Akhlak santri teruji saat berada di
kamar asrama, bukan hanya saat duduk di depan guru.
Teman-teman
santri yang saya banggakan,
Orang
yang berilmu tinggi tanpa adab hanya akan mendatangkan fitnah dan kesombongan,
seperti halnya Iblis yang berpengetahuan namun terusir dari rahmat Allah karena
takabur [7]. Sebaliknya, adab yang indah akan mengangkat derajat santri
meskipun hafalannya belum banyak.
Jadikan
akhlak mulia sebagai ciri khas kepribadian kita di mana pun kita berada.
Marilah
kita berdoa bersama-sama:
اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا
يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ
عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.
(Ya
Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat
menunjukkannya melainkan Engkau; dan palingkanlah kami dari akhlak yang buruk,
tidak ada yang dapat memalingkannya melainkan Engkau.)
Wabillahi
taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sources:
[1] Tahbir al-Waraqat bi Sharh al-Thulathiyat — vol. 1, p. 14
[2] Unknown citation
[3] Madkhal ila Ulum al-Sharia — vol. 1, p. 4
[4] Unknown citation
[5] al-Lulu wal-Marjan fi Mahasin Din al-Islam — vol. 1, p. 74
[6] Tabsit al-Aqaid al-Islamiyya — vol. 1, p. 287
[7] Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab — vol. 8, p. 94
[8] al-Madkhal ila Sahih al-Bukhari — vol. 1, p. 230
[9] al-Mawsua al-Fiqhiyya al-Kuwaytiyya — vol. 28, p. 334
[10] Mutun Talib al-Ilm — vol. 1, p. 170
Comments
Post a Comment