Materi 7: Pahitnya Belajar Membuahkan Manisnya Kemuliaan

Materi 7: Pahitnya Belajar Membuahkan Manisnya Kemuliaan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian membayangkan pengorbanan luar biasa seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Ayyub al-Anshari?

Dikisahkan dalam riwayat yang sahih, beliau rela menunggangi untanya seorang diri, menempuh perjalanan gurun pasir yang terik dan berbahaya selama satu bulan penuh dari Madinah menuju Mesir [1][2]. Untuk apa perjalanan sejauh ribuan kilometer dan seberat itu? Bukan untuk berdagang ataupun mencari harta, melainkan hanya untuk mencocokkan dan mendengar langsung satu hadis dari sahabat Uqbah bin Amir [1][2]!

Setelah mendengar dan mengonfirmasi satu hadis tersebut, Abu Ayyub langsung memutar kembali tali kekang untanya dan pulang menuju Madinah tanpa sempat beristirahat santai [1].

Begitulah para ulama dan sahabat Nabi memandang ilmu; mereka rela menelan kepayahan, rasa lapar, dan keletihan fisik demi meraih kemuliaan warisan kenabian [1][3].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Kemuliaan menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur'an tidak pernah bisa diraih dengan tubuh yang bermalas-malasan dan bersenang-senang [3].

Imam asy-Syafi'i pernah menegaskan dalam bait-bait syairnya yang masyhur: وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً ... تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ "Barang siapa yang belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat, niscaya ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya." [3][4][5]

Dan sahabat Abdullah bin Abbas pun mengungkapkan rahasia kesuksesannya: "Dahulu aku merendahkan diri ketika menuntut ilmu, maka aku dimuliakan ketika orang-orang membutuhkanku." [3]

Bagaimana kita membuktikan kesabaran atas rasa pahitnya belajar di PP Cahaya Quran? Ada 3 ladang kesabaran yang harus kita jalani:

  • Pertama, sabar melawan kantuk saat bangun sebelum fajar: Pahit rasanya meninggalkan selimut tebal dan kasur yang empuk di waktu sahur, namun manisnya kemuliaan akan kita rasakan saat lisan melantunkan ayat suci dalam qiyamul lail dan halaqah subuh mendahului orang-orang yang masih terlelap.
  • Pertama, sabar dalam mengulang ayat yang sulit: Ada ayat-ayat mutasyabihat yang berulang kali salah kita hafalkan hingga membuat lelah pikiran. Jangan putus asa! Rasa lelah mengulang puluhan kali itulah yang sedang membersihkan dosa-dosa kita dan mengokohkan hafalan di dalam dada.
  • Ketiga, sabar menerima teguran dan disiplin asatidzah: Terkadang ustadz menegur tajwid kita yang keliru atau memberi sanksi ketika kita terlambat. Jangan berkecil hati apalagi mendendam. Teguran guru laksana obat pahit yang menyembuhkan penyakit kebodohan dan membentuk mental santri yang tangguh [3][6].

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Semua kenyamanan hidup di pondok yang hari ini kita korbankan—jauh dari orang tua, menu makanan yang sederhana, antrean mandi, dan jadwal yang padat—kelak akan berganti menjadi senyuman manis kemuliaan ketika kita berdiri menjadi penjaga kalam ilahi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bersabarlah atas rasa pahit yang sekejap ini, demi manisnya ilmu yang abadi hingga ke surga.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيلًا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، وَقَوِّ عَزَائِمَنَا عَلَى حِفْظِ كِتَابِكَ، وَاجْعَلْ عَاقِبَةَ أَمْرِنَا رُشْدًا.

(Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesabaran yang indah dalam menuntut ilmu, kuatkanlah tekad kami untuk menghafal kitab-Mu, dan jadikanlah akhir dari segala urusan kami sebagai petunjuk kebaikan.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sources:
[1] Sharh al-Arbaeen al-Nawawiya li Atiyya Salim — vol. 78, p. 3
[2] Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid — vol. 169, p. 32
[3] Madkhal ila Ulum al-Sharia — vol. 1, p. 33
[4] Mawsuat al-Raqaiq wal-Adab — vol. 1, p. 1901
[5] Mawsuat al-Akhlaq wa al-Zuhd wa al-Raqaiq — vol. 1, p. 215
[6] Mawarid al-Zaman li Durus al-Zaman — vol. 4, p. 152

 

Comments