Materi 8: Keutamaan Majelis Ilmu: Tempat Para Malaikat Menebarkan Sayapnya

 Materi 8: Keutamaan Majelis Ilmu: Tempat Para Malaikat Menebarkan Sayapnya

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian mendengar kisah perjalanan seorang penuntut ilmu dari Madinah yang mendatangi sahabat mulia Abu ad-Darda' di Masjid Damaskus? [1]

Ketika orang tersebut tiba, Abu ad-Darda' bertanya kepadanya dengan rasa heran: "Wahai saudaraku, apa yang membuatmu datang jauh-jauh kemari? Apakah untuk berdagang?" Orang itu menjawab: "Bukan." Abu ad-Darda' bertanya lagi: "Apakah ada keperluan dunia yang mendesak?" Orang itu kembali menjawab: "Bukan, aku datang dari kota Rasulullah ﷺ hanya untuk mendengar langsung satu hadis yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Nabi ﷺ." [1]

Mendengar ketulusan niat pemuda tersebut, Abu ad-Darda' tersenyum penuh haru lalu mengabarkan sebuah rahasia langit yang membuat seluruh lelah perjalanannya sirna seketika [1].

Teman-teman santri yang dirahmati Allah,

Abu ad-Darda' menyampaikan sabda Baginda Rasulullah ﷺ yang sangat agung tentang kemuliaan para penuntut ilmu: «وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ» "Dan sesungguhnya para malaikat benar-benar membentangkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang yang berilmu dimohonkan ampunan oleh seluruh makhluk yang ada di langit, di bumi, hingga ikan-ikan yang berada di dalam air." [1][2]

Para ulama menjelaskan bahwa ketika kita duduk di majelis talaqqi, halaqah Al-Qur'an, dan kajian kitab di pesantren, makhluk-makhluk suci ciptaan Allah turun berdesak-desakan, merendahkan sayapnya sebagai tanda hormat, memayungi kita, serta mendoakan ampunan atas dosa-dosa kita [3][4].

Mengingat betapa mulia dan sakralnya majelis ilmu, bagaimanakah sikap kita sebagai santri ketika berada di dalamnya? Ada 3 adab utama yang wajib kita jaga:

  • Pertama, menjaga ketenangan dan ketertiban (As-Sakinah): Karena majelis dihadiri dan dikelilingi oleh para malaikat, hindari bergurau, mengantuk dengan sengaja, mengobrol bisik-bisik, atau melamun saat ustadz menyampaikan penjelasan [4]. Hadirkan rasa hormat kepada malaikat yang sedang menaungi kita.
  • Kedua, bersegera dan merapatkan shaf halaqah: Duduklah mendekat ke arah guru dan penuhi shaf terdepan dengan rapi. Jangan memilih duduk di barisan paling belakang atau menyandar di tembok masjid hanya demi menghindari pandangan ustadz.
  • Ketiga, menghadirkan hati dengan mencatat: Siapkan buku catatan dan pulpen di setiap kajian. Mengikat ilmu dengan tulisan adalah bukti kesungguhan kita menghargai rahmat Allah yang sedang diturunkan di majelis tersebut.

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Ruang kelas, serambi masjid, dan sudut-sudut pesantren tempat kita menghafal Al-Qur'an bukanlah ruangan biasa. Di sanalah tempat turunnya ketenangan jiwa (sakinah), curahan rahmat Allah, dan naungan sayap malaikat yang merindukan majelis kebaikan [4]. Sungguh rugi seorang santri yang hadir di majelis para malaikat, namun hatinya lalai dan jasadnya bermalas-malasan.

Hargailah setiap detik duduk kita di halaqah ilmu, karena di saat yang sama makhluk-makhluk langit sedang mendoakan keselamatan bagi kita.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَجَالِسَنَا مَجَالِسَ رَحْمَةٍ وَبَرَكَةٍ، وَحُفَّنَا بِمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمُعَلِّمِينَا أَجْمَعِينَ.

(Ya Allah, jadikanlah majelis-majelis kami sebagai majelis yang penuh rahmat dan keberkahan, naungilah kami dengan malaikat-malaikat-Mu yang didekatkan, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan guru-guru kami semuanya.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sources:
[1] Rayy al-Zaman bi-Majalis Shuab al-Iman — vol. 3, p. 68
[2] Kitab al-Tawhid al-Musamma al-Takhalli an al-Taqlid wa al-Tahalli bil-Asl al-Mufid — vol. 1, p. 148
[3] Husn al-Tanabbuh lima warada fi al-Tashabbuh — vol. 1, p. 386
[4] Fath al-Qarib al-Mujib ala al-Targhib wa al-Tarhib — vol. 1, p. 645

 

Comments