Materi Kultum 1: Niat yang Bersih: Kunci Keberkahan dalam Menuntut Ilmu

 

Materi 1: Niat yang Bersih: Kunci Keberkahan dalam Menuntut Ilmu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidzah yang kami muliakan serta teman-teman santri PP Cahaya Quran yang dirahmati Allah,

Pernahkah kalian mendengar pengakuan jujur dari seorang ulama besar rujukan tafsir dari generasi tabi'in, yaitu Imam Mujahid bin Jabr?

Beliau pernah bertutur tentang awal mula perjalanannya mencari ilmu: "Dahulu kami menuntut ilmu ini, padahal kami belum memiliki niat yang besar (belum sepenuhnya murni karena Allah). Namun kemudian, Allah menganugerahkan niat yang ikhlas itu setelahnya." [1][2]

Bahkan ulama hadis terkemuka, Sufyan ats-Tsauri, menggambarkan betapa beratnya menjaga hati dengan berkata: "Tidak ada perkara yang paling sulit aku obati dan aku luruskan melebihi niatku sendiri, karena niat itu sering berbolak-balik." [3][4]

Para ulama terdahulu menyadari bahwa perjuangan terbesar seorang penuntut ilmu bukanlah menahan kantuk atau menghafal bait-bait nadzam, melainkan membersihkan isi hatinya: Untuk siapa sebenarnya kita mondok dan belajar di tempat ini?

Teman-teman yang dirahmati Allah,

Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia, dan setiap ibadah tidak akan diterima serta tidak akan mendatangkan keberkahan kecuali dilandasi oleh niat yang tulus semata-mata mencari ridha Allah [5][4].

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadisnya yang sangat masyhur:

 «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

"Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." [5]

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menjelaskan bahwa niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah: berniat untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, lalu menghilangkannya dari orang lain [6][5].

Lalu, bagaimana kita menerapkan niat yang bersih ini dalam kehidupan sehari-hari di PP Cahaya Quran? Ada 3 hal praktis yang perlu kita jaga:

  • Pertama, meluruskan niat saat bel belajar dan tahfidz berbunyi: Niatkan setiap langkah kaki kita menuju masjid dan ruang halaqah semata-mata untuk menjalankan perintah Allah dan menghidupkan syariat-Nya, bukan sekadar takut terkena hukuman pengurus pondok atau malu kepada pembina asrama [7][8].
  • Kedua, membersihkan motivasi dari pujian: Jangan menghafal Al-Qur'an agar disanjung sebagai santri tercepat atau pemegang juz terbanyak [7][9]. Hafalan yang dilandasi ingin dipuji manusia hanya akan menyisakan rasa letih di dunia dan kerugian besar di akhirat [10][9].
  • Ketiga, memperbaharui niat saat merasa jenuh: Ketika antusiasme mulai menurun, rasa lelah melanda, atau rindu rumah datang menghampiri, segera duduk sejenak dan ingat kembali: Kita berada di sini untuk mengangkat derajat keimanan diri dan menghadiahkan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tua di akhirat kelak.

Teman-teman santri yang saya banggakan,

Ilmu adalah cahaya yang suci, dan cahaya Allah tidak akan bersemayam di dalam hati yang dikotori oleh rasa riya' dan kesombongan. Luruskan niat kita setiap kali membuka lembaran mushaf dan kitab, niscaya Allah mudahkan lisan kita untuk melafalkan ayat-ayat-Nya dan melapangkan dada kita menerima pemahaman.

Marilah kita berdoa bersama-sama:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَإِخْلَاصًا فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ.

(Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, serta kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.)

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber

[1] al-Adab al-Shariyya wa al-Minah al-Mariyya — vol. 2, p. 37
[2] Nashr Tayy al-Tarif fi Fadl Hamalat al-Ilm al-Sharif wa al-Radd ala Maqatihim al-Sakhif — vol. 1, p. 56
[3] Muntalaqat Talib al-Ilm — vol. 1, p. 109
[4] Sharh Lamiyat Ibn Taymiyya — vol. 1, p. 4
[5] Fatawa Munawwa — vol. 14, p. 48
[6] al-Jami li Ulum al-Imam Ahmad — vol. 5, p. 40
[7] Liqa al-Bab al-Maftuh — vol. 164, p. 4
[8] Sharh Zad al-Mustaqni — vol. 1, p. 3
[9] Majmu Fatawa wa Rasail al-Uthaymin — vol. 26, p. 61
[10] Durus al-Shaykh Aidh al-Qarni — vol. 233, p. 45

 

Comments