Materi No. 28: Menjaga Nama Baik Orang Tua Melalui Akhlak Terpuji di Pesantren

Materi No. 28: Menjaga Nama Baik Orang Tua Melalui Akhlak Terpuji di Pesantren

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan taati, serta sahabat-sahabat santri Pondok Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.

Sahabat mulia Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dikenal sangat mencintai dan menjaga kehormatan ayahnya, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab. Suatu hari ketika bepergian ke Makkah, Ibnu Umar berpapasan dengan seorang badui miskin di tengah jalan. Tanpa ragu, beliau langsung turun dari keledainya, memberikan keledai itu beserta surban yang dikenakannya kepada orang badui tersebut.

Sahabat lainnya terheran dan berkata: "Mengapa engkau berikan semuanya? Padahal orang badui itu cukup diberi sedikit saja." Ibnu Umar menjawab: "Sungguh, ayahnya dahulu adalah sahabat karib ayahku, Umar. Dan aku ingin senantiasa menghormati serta menjaga nama baik ayahku dengan memuliakan orang-orang yang dicintainya."

Jika menjaga kawan sang ayah saja bernilai bakti, terlebih lagi menjaga nama baik kedua orang tua lewat kepribadian dan akhlak mulia kita di pesantren!

Hadirin rahimakumullah,

Setiap tindak-tanduk seorang anak mencerminkan nama baik dan kehormatan orang tuanya. Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa perilaku buruk seorang anak bisa menjadi sebab tercelanya orang tua di mata masyarakat. Beliau ﷺ bersabda:

«مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ» [1][2][3]

(“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya. Ditanyakan: 'Apakah ada seseorang yang mencela kedua orang tuanya sendiri?' Beliau bersabda: 'Ya, dia mencela ayah orang lain, lalu orang tersebut membalas mencela ayahnya; dan dia mencela ibu orang lain, lalu orang tersebut membalas mencela ibunya.'”) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kaidah penting: jika perbuatan buruk kita mengundang celaan bagi orang tua, maka itu terhitung dosa besar [1][4]. Sebaliknya, saat seorang santri berakhlak mulia, orang-orang akan mendoakan dan memuji kedua orang tuanya dengan ungkapan: "Sungguh mulia dan berhasil orang tua yang mendidiknya."

Bagaimana cara santri menjaga nama baik orang tua selama tinggal di pondok?

  1. Menghindari Perilaku Melanggar Disiplin Pondok: Jangan sampai nama orang tua kita dipanggil oleh bagian pengasuhan santri karena kita bolos shalat, terlambat halaqah Qur'an, atau berbuat onar di asrama. Panggilan pelanggaran adalah aib yang melukai hati orang tua.
  2. Menampilkan Tutur Kata yang Santun: Bersikap ramah, sopan, dan rendah hati kepada ustadz serta sesama kawan pondok. Tutur kata santri yang bersih dari umpatan dan makian adalah bukti nyata keberhasilan pendidikan adab orang tua dari rumah.
  3. Merawat Fasilitas Bersama dan Menjaga Kebersihan Diri: Tampil rapi, bersih, dan menjaga lemari serta ranjang asrama tetap teratur. Sikap mandiri dan apik ini mencerminkan asuhan orang tua yang penuh disiplin.

Sahabat-sahabatku santri Cahaya Quran, ingatlah bahwa kita adalah duta dan cerminan keluarga kita di pondok pesantren ini. Setiap akhlak terpuji yang kita tunjukkan adalah persembahan mahkota kehormatan bagi ayah dan ibu kita di hadapan asatidz dan masyarakat.

Mari kita memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala:

اللَّهُمَّ حَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَاحْفَظْ بِهَا كَرَامَةَ وَالِدَيْنَا، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَلَا تَفْضَحْنَا وَلَا تَفْضَحْهُمْ بِسُوءِ أَعْمَالِنَا

(“Ya Allah, perbaikilah akhlak kami, peliharalah kehormatan orang tua kami melaluinya, jadikanlah kami penyejuk mata bagi mereka di dunia dan akhirat, serta janganlah Engkau hinakan kami maupun mereka akibat keburukan amal perbuatan kami.”)

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Sources:
[1] Sharh Bulugh al-Maram — vol. 4, p. 516
[2] Minhat al-Allam fi Sharh Bulugh al-Maram — vol. 10, p. 107
[3] Fath al-Munim Sharh Sahih Muslim — vol. 1, p. 296
[4] al-Mufhim lima ashkal min Talkhis Kitab Muslim — vol. 1, p. 285

 

Comments