Materi No. 29: Adab Menelepon dan Menyambut Orang Tua Saat Jam Kunjungan

 

Materi No. 29: Adab Menelepon dan Menyambut Orang Tua Saat Jam Kunjungan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami hormati dan taati, serta sahabat-sahabat santri Pondok Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.

Sahabat perawi hadis terbanyak, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, memiliki kebiasaan agung setiap kali hendak keluar atau masuk rumahnya [1]. Beliau akan berdiri di depan pintu kamar ibunya seraya berseru lembut: "Keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah untukmu, wahai ibuku tercinta."

Sang ibu pun menjawab salamnya, lalu Abu Hurairah menyambung dengan doa penuh kelembutan: "Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah merawat dan mendidikku semasa kecil." Sang ibu pun membalas: "Dan semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di hari tuaku ini." [1]

Abu Hurairah tidak pernah menyapa ibunya dengan ketus atau terburu-buru, melainkan selalu dengan doa dan pemuliaan yang menggetarkan hati.

Hadirin rahimakumullah,

Allah SWT memerintahkan setiap anak untuk merendahkan diri dan bersikap penuh kasih sayang di hadapan orang tuanya. Allah berfirman:

﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾ [2][3][4]

(“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'”) (QS. Al-Isra': 24).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa merendahkan sayap kerendahan hati mencakup berbicara dengan nada yang lembut, tidak meninggikan suara melebihi suara orang tua, serta menunjukkan wajah yang berseri-seri dan gembira saat menyambut mereka [5][6][7]. Saat menelepon maupun bertemu langsung, adab santri tercermin dari tutur kata dan sikap tubuhnya.

Bagaimana penerapan adab menelepon dan menyambut orang tua di Pesantren Cahaya Quran?

  1. Adab Santun Saat Menggunakan Waktu Telepon: Mulailah percakapan dengan salam dan menanyakan kabar kesehatan orang tua. Jangan langsung merengek meminta kiriman uang atau mengeluhkan tugas hafalan. Ucapkan terima kasih atas kiriman yang telah diberikan dan sampaikan perkembangan belajar kita dengan penuh rasa syukur.
  2. Menyambut Kedatangan Orang Tua dengan Rapi dan Ceria: Ketika hari kunjungan tiba, persiapkan diri dengan pakaian yang bersih dan rapi. Sambut orang tua di area penjemputan dengan senyuman hangat, cium tangan mereka penuh takzim, dan jangan sibuk meminta ponsel/gawai orang tua untuk bermain game saat mereka datang berkunjung.
  3. Membawakan Barang dan Menemani Percakapan: Berinisiatif membawakan tas atau bekal yang dibawa orang tua. Duduklah di dekat mereka, dengarkan nasihat yang mereka sampaikan dengan penuh perhatian, dan jangan menunjukkan sikap bosan atau terburu-buru ingin kembali ke asrama.

Sahabat-sahabatku, orang tua kita rela menempuh perjalanan jauh dan menyisihkan waktu berharga mereka semata-mata karena rindu ingin melihat anak kebanggaannya tumbuh menjadi shalih di pondok ini. Jadikan setiap detik sambungan telepon dan momen kunjungan sebagai ladang pahala untuk menyenangkan hati mereka.

Mari kita memohon kelembutan akhlak dan ridha kedua orang tua kepada Allah Ta'ala:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، رَطْبَ اللِّسَانِ مَعَهُمْ، لَيِّنَ الْجَانِبِ لَهُمْ، وَارْزُقْنَا قُرْبَهُمْ وَرِضَاهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ الْجَمِيلِ

(“Ya Allah, jadikanlah kami anak-anak yang senantiasa berbakti kepada ayah dan ibu kami, lembut tutur kata kami terhadap mereka, rendah hati di hadapan mereka, karuniakanlah kepada kami ridha mereka, dan jagalah mereka dengan penjagaan-Mu yang sempurna.”)

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Sources:
[1] Mawsuat al-Tafsir al-Mathur — vol. 13, p. 116
[2] Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid — vol. 299, p. 4
[3] Silsilat Mahasin al-Tawil — vol. 38, p. 3
[4] Tafsir Hadaiq al-Ruh wal-Rayhan fi Rawabi Ulum al-Quran — vol. 16, p. 92
[5] Tafsir Ibn Abi Hatim — vol. 7, p. 2324
[6] Ahkam al-Quran lil-Jassas — vol. 5, p. 20
[7] Ahkam al-Quran lil-Jassas — vol. 3, p. 255

 

Comments