Materi No. 36: Indahnya Persaudaraan Santri Seiman di Pesantren

 

Materi No. 36: Indahnya Persaudaraan Santri Seiman di Pesantren

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami hormati dan taati, serta sahabat-sahabat santri Pondok Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.

Ketika kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah tanpa membawa harta benda, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dari Makkah dengan Sa'ad bin Ar-Rabi' dari kaum Anshar Madinah [1][2]. Sa'ad berkata dengan tulus: "Wahai saudaraku, aku adalah orang yang paling banyak hartanya di Madinah, ambillah separuh hartaku untukmu!" [1][3] Namun Abdurrahman menjawab dengan penuh kemuliaan: "Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu, cukup tunjukkanlah kepadaku di mana letak pasar." [1][4] Tidak ada ikatan darah di antara mereka, namun iman menyatukan jiwa mereka lebih erat daripada saudara kandung, saling menopang dan menguatkan dalam dakwah Islam.

Hadirin rahimakumullah,

Persaudaraan sesama mukmin diibaratkan laksana satu bangunan kokoh yang saling mengokohkan fondasinya. Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» [5][6][7]

(“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Saat menyampaikan hadis ini, Rasulullah ﷺ merapatkan jari-jemari kedua tangan beliau [6][8][9]. Pesan ini menegaskan bahwa santri tidak boleh berjalan sendiri-sendiri atau saling menjatuhkan. Satu bata yang rapuh dapat merobohkan dinding, demikian pula bila ada santri yang bersikap egois, keharmonisan seluruh asrama akan terganggu.

Bagaimana kita mewujudkan ukhuwah islamiyah yang indah di asrama Pesantren Cahaya Quran?

  1. Menghilangkan Perbedaan Suku, Daerah, dan Latar Belakang: Jangan membuat kelompok-kelompok eksklusif berdasarkan daerah asal atau status sosial. Di pesantren, kita semua disatukan di bawah satu mahkota kebersamaan: penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur'an.
  2. Saling Menopang dalam Belajar dan Ibadah: Ketika melihat kawan sekamar tertidur menjelang shalat Subuh atau kesulitan menyetorkan ayat tahfidz, bangunkanlah dengan lembut dan bantu ia melancarkan bacaannya, bukan malah menertawakannya.
  3. Merasakan Kesusahan Sahabat Asrama: Jika ada kawan pondok yang sakit atau sedang sedih karena kiriman belum tiba, jenguklah, bawakan makanan dari dapur, dan hibur hatinya dengan kebersamaan yang hangat.

Sahabat-sahabatku santri Cahaya Quran, masa-masa mondok di pesantren adalah masa terindah untuk merajut persaudaraan sejati karena Allah. Sahabat yang kita temui di shaf shalat dan halaqah Quran hari ini insya Allah akan menjadi saksi kebaikan serta penolong kita di surga kelak.

Mari kita memanjatkan doa persatuan hati kepada Allah Ta'ala:

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا إِخْوَةً مُتَحَابِّينَ فِي جَلَالِكَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى طَاعَتِكَ

(“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, serta jadikanlah kami saudara-saudara yang saling mencintai karena keagungan-Mu dan tolong-menolong di atas ketaatan kepada-Mu.”)

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sources:
[1] Hayat al-Sahaba — vol. 1, p. 458
[2] Athar Ibn Badis — vol. 4, p. 83
[3] al-Sira al-Nabawiya — vol. 16, p. 6
[4] Manar al-Qari Sharh Mukhtasar Sahih al-Bukhari — vol. 3, p. 255
[5] al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara — vol. 3, p. 279
[6] Sharh al-Aqida al-Wasitiyya — vol. 2, p. 344
[7] Arbaun Hadithan min Musnad Burayd li al-Daraqutni — vol. 1, p. 79
[8] Mustakhraj Abi Awana — vol. 19, p. 440
[9] Majalis al-Tadhkir min Hadith al-Bashir al-Nadhir — vol. 1, p. 96

 

Comments