Materi No. 37: Bahaya Lisan: Menjaga Perkataan dari Celaan dan Ghibah
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami muliakan dan taati, serta sahabat-sahabat santri Pondok
Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.
Kisah
Peringatan Rasulullah ﷺ kepada Mu'adz bin
Jabal:
Suatu
ketika, sahabat muda yang cerdas, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, bertanya
kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan yang
dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka. Setelah
menjelaskan pokok-pokok Islam, shalat, dan puasa, Rasulullah ﷺ memegang lisannya sendiri seraya berpesan: "Kendalikan
dan jagalah ini!" [1][2]
Mu'adz
terkejut lalu bertanya: "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa
hanya karena apa yang kita bicarakan?" Maka Rasulullah ﷺ menegaskan: "Celaka engkau wahai
Mu'adz, tidaklah manusia ditelungkupkan wajahnya di dalam api neraka melainkan
akibat dari buah panenan lisan-lisan mereka!" [1][3][2]
Hadirin
rahimakumullah,
Menjaga
lisan adalah tolak ukur kesempurnaan iman seorang muslim. Allah Subhanahu wa
Ta'ala melarang keras perbuatan membicarakan aib sesama muslim (ghibah) dan
mengumpamakannya dengan hal yang sangat menjijikkan:
﴿وَلَا
يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ﴾
(“Dan
janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”) (QS. Al-Hujurat: 12).
Rasulullah
ﷺ juga menegaskan bahwa keselamatan seorang
hamba berbanding lurus dengan kemampuannya memilih antara berkata baik atau
diam:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ» [4][5]
(“Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik
atau diam.”) (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
Mencela,
mengejek kekurangan fisik teman, dan membicarakan aib sahabat asrama di
belakangnya adalah perbuatan berbahaya yang dapat menghanguskan pahala hafalan
dan shalat kita di pesantren.
Bagaimana
santri Cahaya Quran membentengi lisan dalam pergaulan asrama?
- Tidak Bergabung dalam Obrolan
Ghibah:
Saat santri sekamar mulai membicarakan kelemahan santri lain, ustadz, atau
musyrif, segera ingatkan dengan baik atau alihkan topik pembicaraan kepada
muraja'ah dan ilmu.
- Menghindari Celetukan Kasar
dan Celaan:
Menghapus kosakata makian, umpatan daerah, atau panggilan mengejek di
komplek pondok. Lisan yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an terlalu mulia
untuk dikotori oleh kata-kata kotor.
- Menerapkan Rumus Berpikir
Sebelum Berucap:
Tanyakan tiga hal pada diri sendiri sebelum berbicara: Apakah perkataan
ini benar? Apakah ada manfaatnya? Apakah tidak melukai hati saudaraku?
Jika tidak memenuhi ketiganya, memilih diam adalah jalan keselamatan.
Sahabat-sahabatku
penghafal Al-Qur'an, lisan kita setiap hari dipakai melafalkan kalam Allah yang
suci. Jangan biarkan lisan yang sama merusak persaudaraan dan menjatuhkan kita
ke dalam murka Allah akibat celaan dan ghibah. Jagalah lisan agar hafalan kita
bercahaya dan berkah.
Mari kita
memohon pembersihan lisan dan hati kepada Allah Ta'ala:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ
وَالْغِيبَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَقُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالْحَسَدِ،
وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ وَتِلَاوَةِ كِتَابِكَ الْكَرِيمِ (“Ya
Allah, bersihkanlah lisan-lisan kami dari dusta, ghibah, dan fitnah, serta
bersihkanlah hati kami dari kemunafikan dan kedengkian; jadikanlah lisan kami
senantiasa basah dengan mengingat-Mu dan membaca kitab suci-Mu.”)
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sources:
[1] Durus lil-Shaykh Muhammad Hassan — vol. 22, p. 7
[2] Sharh Sunan Ibn Majah lil-Harari = Murshid Dhawi al-Hija wa al-Haja ila
Sunan Ibn Majah — vol. 24, p. 29
[3] Tarajuat al-Albani — vol. 1, p. 186
[4] al-Jami al-Sahih Mimma Laysa fi al-Sahihayn — vol. 2, p. 462
[5] Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya — vol. 9, p. 3122
.png)
Comments
Post a Comment