Materi No. 38: Menghindari Perundungan (Bullying) dan Mengolok-olok Teman
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami muliakan dan taati, serta sahabat-sahabat santri Pondok
Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.
Kisah
Keteladanan Nabi ﷺ Membela
Abdullah bin Mas'ud:
Suatu
hari, sahabat yang mulia dan penghafal Al-Qur'an agung, Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu 'anhu, memanjat sebatang pohon kurma untuk memetik buah. Tiba-tiba
angin bertiup kencang hingga menyingkap betisnya yang terlihat sangat kecil dan
kurus. Melihat pemandangan tersebut, sebagian sahabat yang ada di bawah tertawa
dan saling mengolok-olok betis Ibnu Mas'ud.
Seketika
itu, wajah Rasulullah ﷺ berubah dan beliau
menegur dengan tegas: "Mengapa kalian menertawakan betisnya? Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis kecil itu di timbangan
mizan hari kiamat jauh lebih berat dan mulia daripada Gunung Uhud!"
Rasulullah ﷺ tidak mentolerir sedikit pun candaan yang
merendahkan fisik atau menghinakan martabat saudaranya.
Hadirin
rahimakumullah,
Allah swt melarang keras setiap bentuk
perundungan, olok-olok, dan panggilan bernada merendahkan sesama mukmin:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا
خَيْرًا مِّنْهُمْ﴾ [1][2][3]
(“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”) (QS. Al-Hujurat: 11).
Rasulullah
ﷺ juga menegaskan bahaya meremehkan kawan:
«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ،
لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ... بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ
الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ» [1][4][5]
(“Seorang
muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak boleh menzaliminya, tidak
menelantarkannya, dan tidak merendahkannya... Cukuplah seseorang dianggap
melakukan kejahatan besar jika ia meremehkan/merendahkan saudaranya sesama
muslim.”) (HR.
Muslim).
Para
ulama menjelaskan bahwa pelaku perundungan sering kali memandang dirinya hebat
dan memandang orang lain penuh kehinaan [5][6]. Padahal, teman yang di-bully
atau diejek bisa jadi jauh lebih mulia dan dicintai Allah daripada orang yang
mengejeknya [2][6].
Bagaimana
kita menjauhkan perundungan (bullying) dari kehidupan asrama Pesantren
Cahaya Quran?
- Menghentikan Panggilan Gelar
Buruk (Nabaz): Menolak keras pemberian julukan nama kawan
berdasarkan kekurangan fisik, logat kedaerahan, atau kesalahan yang pernah
ia perbuat di asrama. Panggillah kawan dengan nama aslinya yang indah dan
penuh doa.
- Tidak Melakukan Senioritas
dan Penindasan Fisik: Menghilangkan kebiasaan santri yang merasa
lebih lama di pondok untuk menyuruh santri baru mencuci pakaiannya,
memijat tanpa kerelaan, atau mengintimidasi mereka di kamar asrama.
- Membela dan Melaporkan Tindakan
Perundungan:
Jika melihat ada teman sekamar yang diejek atau dipojokkan, jangan hanya
diam atau ikut tertawa. Jadilah pembela saudaranya atau segera laporkan
kejadian tersebut kepada musyrif asrama agar tercipta lingkungan belajar
yang aman dan damai.
Sahabat-sahabatku
santri pembawa ayat-ayat suci, jangan biarkan ada air mata kawan yang menetes
di bantal asrama akibat kata-kata tajam atau perlakuan kasar dari kita.
Jadikanlah pesantren ini sebagai istana kasih sayang tempat kita saling
memuliakan dan menguatkan dalam naungan Al-Qur'an.
Mari kita
memohon perlindungan dari kezaliman kepada Allah Ta'ala:
اللَّهُمَّ
طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالِاحْتِقَارِ، وَأَلْسِنَتَنَا
وَأَيْدِيَنَا مِنَ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ، وَاجْعَلْنَا إِخْوَةً مُتَرَاحِمِينَ،
لَا نَظْلِمُ وَلَا نُظْلَمُ
(“Ya
Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan dan sikap merendahkan orang
lain, bersihkanlah lisan serta tangan kami dari kezaliman dan permusuhan, serta
jadikanlah kami saudara-saudara yang saling berkasih sayang, tidak menzalimi
dan tidak pula terzalimi.”)
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sources:
[1] al-Adhkar lil-Nawawi — vol. 1, p. 349
[2] al-Taj al-Jami lil-Usul fi Ahadith al-Rasul — vol. 5, p. 37
[3] Shakhsiyat al-Muslim kama yasughuha al-Islam fi al-Kitab wa al-Sunna — vol.
1, p. 217
[4] Fath al-Qarib al-Mujib ala al-Targhib wa al-Tarhib — vol. 11, p. 742
[5] Ghitha al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab — vol. 1, p. 131
[6] Sharh Bulugh al-Maram — vol. 4, p. 633
.png)
Comments
Post a Comment