Materi No. 39: Seni Menghormati yang Lebih Tua dan Menyayangi yang Lebih Muda

Materi No. 39: Seni Menghormati yang Lebih Tua dan Menyayangi yang Lebih Muda

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan taati, serta segenap sahabat santri Pondok Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.

Kisah Keteladanan Majelis Rasulullah ﷺ Menyambut Orang Tua:

Suatu hari ketika baginda Nabi Muhammad ﷺ sedang duduk berkumpul bersama para sahabat di masjid, tiba-tiba datang seorang kakek tua yang melangkah perlahan hendak menemui Rasulullah ﷺ [1][2]. Melihat hal tersebut, sebagian sahabat sempat berlambat-lambat untuk bergeser memberikan ruang duduk bagi sang kakek [1][2].

Seketika itu, Rasulullah ﷺ menegur dan mengingatkan seluruh hadirin tentang fondasi peradaban Islam: "Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kami!" [1][2]

Sejak saat itu, para sahabat selalu mengedepankan penghormatan kepada orang tua dan mengalirkan kasih sayang penuh kelembutan kepada anak-anak muda [3].

Hadirin rahimakumullah,

Keseimbangan tatanan masyarakat pesantren bertumpu pada dua akhlak mulia: penghormatan santri junior kepada yang lebih tua, dan curahan kasih sayang santri senior kepada yang lebih muda [2]. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا» [4][5][1]

(“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak memuliakan/menghormati yang lebih tua di antara kami.”) (HR. At-Tirmidzi).

Para ulama syarah hadis menjelaskan makna laisa minna adalah: perbuatan tersebut keluar dari sunnah dan adab kepribadian Nabawi [6][3]. Yang lebih tua dihormati karena lebih dahulu beriman, lebih dahulu menuntut ilmu, dan memiliki pengalaman [3]. Sementara yang lebih muda disayangi dengan bimbingan, kelembutan, dan perlindungan [4][3].

Bagaimana mempraktikkan seni menghormati dan menyayangi ini di asrama Pesantren Cahaya Quran?

  1. Adab Santri yang Lebih Muda kepada Kakak Kelas (Senior): Berbicara dengan tutur bahasa yang santun, memanggil dengan panggilan kehormatan (Akhi / Kakak), mendahulukan mereka saat mengambil tempat di majelis ta'lim, dan tidak bersikap membangkang saat diingatkan tata tertib pondok.
  2. Kasih Sayang Santri yang Lebih Tua kepada Adik Kelas (Junior): Menjadi teladan yang baik, bukan bersikap otoriter atau menyuruh-nyuruh secara zalim. Rangkullah adik-adik kelas yang baru beradaptasi, bantu mereka menyimak hafalan Al-Qur'an (tasmi'), dan bimbing mereka merapikan kamar asrama.
  3. Menciptakan Suasana Kekeluargaan Tanpa Sekat Senioritas Negatif: Menghilangkan dinding pemisah antarangkatan; jadikan kamar asrama dan halaqah Al-Qur'an sebagai ruang tempat yang tua mengayomi dan yang muda menaruh rasa hormat.

Sahabat-sahabatku santri Cahaya Quran, keindahan pesantren ini akan terpancar nyata apabila yang muda tahu bagaimana beradab memuliakan yang tua, dan yang tua tulus mengalirkan kasih sayangnya kepada yang muda. Dengan itulah rahmat dan pertolongan Allah akan senantiasa menaungi pondok kita tercinta.

Mari kita memohon akhlak yang saling mencintai kepada Allah Ta'ala:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْقِيرَ كِبَارِنَا، وَالشَّفَقَةَ عَلَى صِغَارِنَا، وَاجْعَلْنَا إِخْوَةً مُتَحَابِّينَ مُتَرَاحِمِينَ، لَا يَفْرَقُ بَيْنَنَا شَيْطَانٌ وَلَا هَوًى

(“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kemampuan memuliakan yang lebih tua di antara kami dan kasih sayang kepada yang lebih muda, jadikanlah kami saudara-saudara yang saling mencintai dan berkasih sayang, yang tidak dipisahkan oleh tipu daya setan maupun hawa nafsu.”)

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sources:
[1] Sunan al-Tirmidhi — vol. 3, p. 479
[2] al-Tanwir Sharh al-Jami al-Saghir — vol. 9, p. 286
[3] Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya — vol. 3, p. 654
[4] al-Siraj al-Munir Sharh al-Jami al-Saghir fi Hadith al-Bashir al-Nadhir — vol. 4, p. 176
[5] Itqan ma yahsun min al-akhbar al-daira ala al-alsun — vol. 2, p. 480
[6] Sunan al-Tirmidhi — vol. 4, p. 321

 

Comments