Materi No. 26: Keringat Orang Tua di Balik Setiap Butir Nasi Santri
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ
الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan asatidz yang kami muliakan dan taati, serta sahabat-sahabat santri
Pondok Pesantren Cahaya Quran yang dirahmati Allah Ta'ala.
Kisah Keteladanan Ibunda Imam Syafi'i: Ketika Imam
Asy-Syafi'i kecil hendak merantau jauh ke Madinah demi mempelajari ilmu
Al-Qur'an dan sunnah, ibundanya adalah seorang janda yang hidup dalam keadaan
serba kekurangan. Beliau tidak memiliki bekal emas maupun perak untuk anaknya.
Sang ibu rela mengumpulkan potongan-potongan kertas bekas dan tulang belulang
binatang di jalanan agar anaknya memiliki media untuk menulis hadis. Di balik
setiap suapan makanan sang anak, terdapat cucuran keringat dan jari-jemari ibu
yang lelah memintal benang hingga larut malam demi mencukupi biaya belajar
putranya. Dari pengorbanan sunyi itulah lahir seorang imam besar penegak
sunnah.
Hadirin rahimakumullah,
Kerja keras seorang ayah dan ibu dalam menafkahi biaya hidup serta
pendidikan anak di jalan Allah memiliki ganjaran pahala yang sangat agung.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي
رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ
عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ» [1][2][3]
(“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau
keluarkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada
orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu; maka yang
paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”) (HR.
Muslim).
Hadis ini membuktikan bahwa setiap rupiah dan tetesan keringat yang
dikorbankan ayah dan ibu untuk membiayai SPP pondok, membeli kitab, dan
menyediakan makanan kita dinilai sebagai sedekah terbaik di hadapan Allah. Makanan
yang tersaji di depan kita bukanlah perkara cuma-cuma, melainkan jelmaan dari
lelahnya perjuangan orang tua di rumah.
Bagaimana kita menghargai keringat orang tua dalam kehidupan harian di
asrama?
- Menghargai Makanan dan Menghindari Mubazir: Jangan membuang-buang nasi dan lauk saat jam makan di pondok.
Ambillah porsi secukupnya dan habiskan tanpa bersisa; bayangkan lelahnya
orang tua membanting tulang untuk membiayai makanan tersebut.
- Tidak Mengeluh dan Menuntut Berlebihan:
Syukuri menu makanan yang disajikan di pesantren. Menghindari kebiasaan
sering menelepon orang tua hanya demi meminta kiriman jajanan mewah atau
uang jajan berlebih yang membebani mereka.
- Membayar Jerih Payah Mereka dengan Kesungguhan Belajar: Bangun sebelum Subuh tanpa bermalas-malasan, tekun menghafal
Al-Qur'an, dan taat peraturan pondok. Menjadi santri berprestasi adalah
cara terbaik membalas cucuran keringat ayah dan ibu.
Sahabat-sahabatku, jangan pernah kita menyia-nyiakan makanan dan
kesempatan mondok di Pesantren Cahaya Quran. Di balik setiap butir nasi yang
mengalirkan tenaga di tubuh kita, ada doa lirih dan lelah panjang kedua orang
tua yang menaruh harapan besar agar kita menjadi generasi Qurani penyejuk hati
mereka.
Mari kita tundukkan kepala seraya mendoakan kedua orang tua kita:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا
خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَاجْعَلْ عَرَقَهُمْ وَجُهْدَهُمْ نُورًا وَبَرَكَةً،
وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ وَرِضَاهُمْ
(“Ya Allah, ampunilah ayah dan ibu kami, balaslah mereka dengan
sebaik-baik balasan atas perjuangan mereka untuk kami, jadikanlah keringat dan
jerih payah mereka sebagai cahaya dan keberkahan, serta karuniakanlah kepada
kami kemampuan untuk berbakti dan meraih ridha mereka.”)
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sources:
[1] Minhat al-Munim fi Sharh Sahih Muslim — vol. 2, p. 94
[2] Ghitha al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab — vol. 2, p. 436
[3] al-Asas fi al-Sunna wa Fiqhiha — vol. 5, p. 2309

Comments
Post a Comment