Modul Pidato 100: Santri Berakhlak Qurani: Penerang di Tengah Kegelapan Zaman
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ
نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami takzhimi dan seluruh santri Pondok Pesantren Cahaya Quran
yang dirahmati Allah.
Suatu
hari Rasulullah ﷺ memegang tangan para
sahabat seraya bersabda dengan nada haru: “Sesungguhnya Islam ini bermula
dalam keadaan asing, dan kelak ia akan kembali menjadi asing sebagaimana ia
bermula. Maka berbahagialah bagi al-ghuraba' (orang-orang yang asing
tersebut)!”
Para
sahabat bertanya penuh harap: “Siapakah mereka orang-orang yang asing itu,
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Alladzina yushlihuuna idza fasadan
naas” (Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan dan berpegang
teguh pada kebenaran tatkala manusia di sekelilingnya telah rusak!).
Rasulullah
ﷺ menggambarkan beratnya tantangan dan
tingginya martabat para penjaga nilai agama di akhir zaman:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى
دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»
"Akan
datang kepada manusia suatu zaman di mana orang yang bersabar memegang teguh
agamanya di antara mereka laksana orang yang menggenggam bara api." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Allah SWT juga menegaskan kemuliaan cahaya
Al-Qur'an yang menghidupkan jiwa:
﴿أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا
يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ
مِنْهَا﴾
"Dan
apakah orang yang sudah mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia dan Kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di
tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap
gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?" (QS. Al-An'am: 122)
Perumpamaan
kal qaabidhi 'alal jamr (menggenggam bara api yang menyala) adalah
metafora paling menggetarkan tentang beratnya mempertahankan identitas syariat
di tengah gempuran fitnah syubhat dan syahwat. Jika bara api itu dilepaskan, ia
akan padam dan agama lenyap dari dadanya; namun jika digenggam erat, telapak
tangannya merasakan panas yang membakar. Di era modern ini, santri yang
konsisten menjaga shalat berjamaah, menundukkan pandangan dari pornografi
gawai, dan memakai peci serta jubah seringkali dipandang aneh atau kuno oleh
peradaban sekuler.
Namun Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira yang luar biasa:
orang yang bersabar memegang teguh sunnah di zaman fitnah diganjar pahala lima
puluh kali lipat amalan para sahabat Nabi karena beratnya ujian dan sedikitnya
penolong kebaikan di sekelilingnya. Al-Qur'an yang bersemayam di dalam dada para santri
adalah lentera (nur) yang membelah gulitanya zaman kekacauan nilai moral.
Santri
Pondok Pesantren Cahaya Quran terpilih bukan untuk menjadi penonton pasif
kehancuran zaman, melainkan diutus menjadi pelopor perbaikan (mushlih).
Di pundak santri inilah amanah kemurnian kalamullah terjaga. Ketika dunia
kehilangan arah dalam hedonisme dan materialisme, santri hadir menawarkan
keteduhan akhlak, kejernihan akidah, dan keindahan peradaban wahyu ilahi.
Tiga
wasiat agung bagi santri Cahaya Quran:
- Bangga dengan Identitas
Santri dan Syiar Islam: Tidak merasa malu atau minder menampilkan
identitas kesantrian, peci, sarung, mushaf Al-Qur'an, dan adab islami di
ruang publik.
- Menjadikan Al-Qur'an Sebagai
Panduan Hidup (Manhajul Hayah): Tidak sekadar mengejar setoran juz, tetapi
menjadikan ayat-ayat yang dihafal sebagai timbangan akhlak dalam
berbicara, bergaul, dan bermedia sosial.
- Menggenggam Bara Api Sunnah
Hingga Husnul Khatimah: Bersabar menghadapi lelahnya perjuangan menuntut
ilmu di pesantren demi mempersembahkan mahkota cahaya kemuliaan bagi kedua
orang tua di hari kiamat kelak.
3. Penutup & Ajakan (2 Menit)
Wahai
santri Cahaya Quran, kalian adalah lentera penerang zaman. Tetaplah menyala
walau badai menerpa; bimbinglah umat ini menuju dermaga ridha Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Allahummarhamna
bil quran, waj'alhu lana imaman wa nuran wa hudan wa rahmah. Allahumma
dzakkirna minhu ma nasiina, wa 'allimna minhu ma jahilna, warzuqna tilawatahu
aana-al laili wa athrafan nahar, waj'alhu lana hujjatan ya Rabbal 'alamin.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment