Modul Pidato 66: Menjaga Kesucian Hati dari Penyakit Sombong (Kibar)
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri yang dicintai Allah.
Makhluk
pertama yang terusir dari rahmat Allah bukanlah karena ia tidak beribadah,
melainkan karena sebutir penyakit sombong di dalam dadanya. Ketika Iblis
diperintahkan bersujud menghormati Nabi Adam, ia menolak seraya berkata angkuh:
“Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api sedangkan Engkau
ciptakan dia dari tanah liat.” Kesombongan adalah jurang kehancuran yang
menutup pintu surga bagi siapa saja yang memeliharanya.
Rasulullah
ﷺ memberikan peringatan keras mengenai
bahaya kesombongan sekecil apa pun di dalam dada:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ
كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
"Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarrah
(debu/semut kecil) dari kesombongan." (HR. Muslim) [1][2][3]
Ketika
para sahabat bertanya apakah menyukai pakaian bagus termasuk sombong, Nabi ﷺ menjelaskan hakikat sombong yang
sebenarnya:
«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ،
وَغَمْطُ النَّاسِ»
"Sombong
itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan (merendahkan) manusia." (HR. Muslim) [4][1][2]
Tiga cara
membersihkan hati dari sifat sombong di pesantren:
- Tidak Membanggakan Kecepatan
Hafalan dan Garis Keturunan: Menghafal lebih banyak juz atau berasal dari
keluarga terpandang tidak membuat kita lebih mulia di mata Allah tanpa
ketakwaan.
- Siap Menerima Teguran dan
Nasihat:
Jangan mendengus atau membantah ketika diingatkan oleh teman maupun
pengurus kamar saat melakukan kekhilafan.
- Tidak Memandang Remeh Teman
yang Tertinggal:
Rangkul kawan yang masih terbata-bata dalam membaca makhraj atau lambat
dalam setoran, jangan menjadikannya bahan ejekan.
3. Penutup & Ajakan (2 Menit)
Penghafal
Kalamullah harus memiliki hati yang tunduk dan lapang, bukan dada yang dipenuhi
keangkuhan.
Allahumma
naqqi qulubana minal kibri wal 'ujub, waj'alna minal mukhlishin. Ya Allah,
bersihkanlah hati kami dari kesombongan, rasa bangga diri, dan jadikanlah kami
hamba-hamba-Mu yang ikhlas.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment