Modul Pidato 76: Keutamaan Menjaga Shalat Fardhu di Shaf Pertama
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami muliakan dan rekan-rekan santri pejuang saf terdepan.
Ulama
besar tabi'in bernama Said bin al-Musayyib rahimahullah berkata mengenai
komitmen ibadahnya: “Tidaklah adzan berkumandang selama tiga puluh tahun
melainkan aku telah berada di dalam masjid, dan aku tidak pernah melihat punggung
seseorang di hadapanku dalam shalat selama empat puluh tahun.” Artinya,
selama empat dekade beliau tidak pernah tertinggal dari saf pertama shalat
berjamaah.
Rasulullah
ﷺ menggambarkan betapa agungnya pahala saf
pertama melalui sabdanya:
«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي
النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا
عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ»
"Sekiranya
manusia mengetahui besarnya keutamaan yang ada pada panggilan adzan dan saf
pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan
mengadakan undian (karena saling berebut tempat), niscaya mereka akan rela
berundi untuk mendapatkannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [1][2][3]
\Kata al-istiham
dalam hadits ini bermakna melakukan al-iqra' (pengundian) [4][5][6].
Para ulama pensyarah hadits, seperti Imam Al-Baji dan Mulla Ali Al-Qari,
menerangkan bahwa Rasulullah ﷺ menyembunyikan
rincian besaran ganjaran pahala saf pertama dan menggunakan kalimat pengandaian
untuk menunjukkan kemegahan dan tingginya derajat pahala tersebut yang
melampaui imajinasi manusia biasa [7][6]. Sekiranya hijab ghaib disingkap dan
manusia melihat kucuran rahmat Allah kepada saf terdepan, niscaya mereka akan
saling berdesakan hingga terpaksa melempar panah undian demi memperebutkan satu
tempat di belakang imam [4][8][6].
Lebih
jauh, ulama fiqih menjelaskan keistimewaan saf pertama dari segi kekhusyukan
dan keselamatan jiwa ibadah: berada di saf terdepan membebaskan pandangan mata
dari melihat gerakan orang lain di depannya, menjauhkan dari gangguan orang
yang lalu-lalang (al-marrah), mendekatkan posisi makmum pada imam
sehingga dapat menyimak bacaan ayat dengan tartil, membetulkan kesalahan
hafalan imam jika terlupa (al-fath 'ala al-imam), serta memperoleh
shalawat dan doa khusus ampunan dari para malaikat [5].
Oleh
karena itu, penuntut ilmu syar'i dan para pembawa Al-Qur'an seharusnya menjadi
barisan terdepan yang mengisi saf awal. Menunda-nunda langkah hingga terlempar
ke saf belakang menunjukkan tanda kelesuan himmah (himmah dha'ifah)
dalam menyambut seruan Allah.
Tiga
komitmen praktis santri di masjid PP Cahaya Quran:
- Bersegera Menuju Masjid
Sebelum Iqamah:
Melangkah ke masjid begitu adzan berkumandang agar mendapatkan posisi di
saf awal tanpa perlu melangkahi pundak jamaah lain.
- Menyambung dan Merapatkan
Shaf dari Tengah Belakang Imam: Mengisi kekosongan saf dari bagian tengah di
belakang imam lalu meluas ke sayap kanan dan kiri secara rapi.
- Mengutamakan Diri Berada di
Saf Awal Tanpa Menunggu Disuruh: Menyadari bahwa dalam perkara ibadah (qurubat),
sikap yang dicontohkan bukanlah mengalah (itsar), melainkan
berlomba-lomba meraih pahala tertinggi.
Kedudukan
santri di sisi Allah kelak tercermin dari seberapa gigih ia berlomba menempati
saf pertama di rumah-Nya.
Allahummaj'alna
min ahlis shufufil ula, alladzina yushalluna 'alaihimul mala-ikah. Ya Allah,
jadikanlah kami hamba-hamba yang senantiasa menjaga saf pertama dan meluruskan
barisan demi meraih ridha-Mu.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment