Modul Pidato 78: Menjaga Khusyuk dalam Gerakan dan Bacaan Shalat
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami taati dan sahabat-sahabat santri yang berbahagia.
Sahabat
mulia Urwah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhu pernah mengalami sakit parah pada
kakinya hingga harus diamputasi agar penyakitnya tidak menjalar ke seluruh
tubuh.
Dokter
menawarkan khamr sebagai pembius rasa sakit, namun beliau menolaknya tegas dan
berkata: “Biarkan aku mendirikan shalat. Ketika kalian melihatku telah
tenggelam dalam ruku' dan sujud bermunajat kepada Allah, potonglah kakiku saat
itu.”
Beliau
tidak bergeming sedikit pun saat kakinya diamputasi karena kelezatan khusyuk
telah menguasai seluruh jiwanya.
Allah SWT menetapkan keberuntungan hakiki
hanya bagi hamba-hamba-Nya yang khusyuk dalam shalatnya:
﴿قَدْ
أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ﴾
"Sungguh
beruntung orang-orang yang beriman." (QS. Al-Mu'minun: 1)
﴿الَّذِينَ
هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾ "
(Yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun: 2)
Rasulullah
ﷺ juga menegaskan:
«إِنَّمَا كُتِبَ لِلْعَبْدِ مِنْ
صَلَاتِهِ مَا عَقَلَ مِنْهَا»
"Sesungguhnya
yang dicatat pahalanya bagi seorang hamba dari shalatnya hanyalah apa yang ia
sadari dan fahami (dengan penuh konsentrasi)." (HR. Abu Dawud)
Teman-teman sekalian yang berbahagia,
Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa khusyuk dalam shalat tercapai melalui
ketundukan hati (khusyu'ul qalb) yang memancar pada ketenangan seluruh
anggota badan (thuma'ninatul jawarih). Ketika hati seorang santri
menghadirkan rasa takut dan cinta kepada Allah, maka pandangan matanya akan
terarah ke tempat sujud, gerakannya menjadi tenang tanpa menoleh atau memainkan
ujung pakaian, sementara lisannya melafalkan ayat dengan penuh penghayatan.
Para
ulama mengibaratkan shalat tanpa khusyuk laksana tubuh tanpa ruh, atau hadiah
sebuah bangkai yang dihadiahkan kepada seorang raja. Shalat yang dikerjakan
secara tergesa-gesa—bagaikan patukan ayam (naqr al-ghurab)—hanya
menggugurkan kewajiban fiqih secara lahiriah, namun kehilangan nilai pahala dan
daya cegah terhadap perbuatan keji dan munkar.
Tiga
langkah yang bisa kita lakukan untuk menjaga kekhusyukan shalat yaitu:
- Menghilangkan Gangguan
Sebelum Takbiratul Ihram: Berwudhu dengan sempurna, merapikan
sarung/jubah, serta tidak shalat dalam kondisi menahan hajat buang air
atau saat makanan telah dihidangkan.
- Mengarahkan Pandangan ke
Tempat Sujud:
Tidak menolehkan bola mata ke kanan-kiri, ke atas langit-langit, atau
melihat tulisan di baju teman di depannya.
- Meresapi Bacaan Al-Qur'an
dan Doa Ruku'/Sujud: Membaca dengan tartil dan meresapi
pengagungan Allah pada saat melafalkan Subhana Rabbiyal 'Azhim dan Subhana
Rabbiyal A'la.
3. Penutup & Ajakan (2 Menit)
Kualitas
hidup dan keberkahan hafalan kita di pondok sangat bergantung pada sejauh mana
kita menyempurnakan khusyuk dalam shalat.
Allahummarzuqna
qalban khasyi'a, wa lisanan dzakira, wa 'ilman nafi'a. Ya Allah, anugerahkanlah
kepada kami hati yang khusyuk dalam shalat dan jiwa yang tunduk di hadapan
kebesaran-Mu.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment