Modul Pidato 79: Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib Bagi Penuntut Ilmu
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Ustadz
dan ustadzah yang kami taati serta sahabat-sahabat santri yang kami banggakan.
Ibunda
kaum mukminin, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan radhiyallahu 'anha,
menceritakan sabda Nabi ﷺ mengenai istana di
surga bagi penjaga shalat sunnah rawatib. Setelah mendengarnya langsung dari
lisan Nabi ﷺ, Ummu Habibah berkata: “Sejak aku
mendengar hadits tersebut dari Rasulullah ﷺ,
aku tidak pernah sekali pun meninggalkan shalat sunnah rawatib dua belas rakaat
itu sepanjang hidupku.” [17]
Rasulullah
ﷺ menjanjikan balasan istimewa bagi hamba
yang merutinkan shalat sunnah rawatib:
«مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي
الْجَنَّةِ»
"Barang
siapa yang mendirikan shalat sunnah sukarela (rawatib) sebanyak dua belas
rakaat dalam sehari semalam, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah
istana (rumah megah) di dalam surga." (HR. Muslim) [18][19][17][20]
Dalam
riwayat Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa'i disebutkan rinciannya:
«أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ
الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ،
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ»
"Yaitu
empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib,
dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh." (HR. At-Tirmidzi) [17][20][21]
Teman-teman sekalian yng berbahagia,
Kata tsabara
atau hafadha dalam jalur periwayatan hadits rawatib menunjukkan tuntutan
kontinuitas (dawam/istiqamah) [20][21]. Ulama fiqih menjelaskan bahwa
fungsi utama dari shalat sunnah rawatib adalah sebagai benteng pelindung dan
penambal (jubran) bagi setiap kekurangan, kelalaian, atau
ketidaksempurnaan yang terjadi di dalam pelaksanaan shalat fardhu kita.
Sebagaimana kita ketahui, kelak pada hari kiamat, amalan pertama yang dihisab adalah
shalat fardhu; jika ditemukan celah kekurangan, Allah memerintahkan malaikat: "Lihatlah,
apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah untuk menyempurnakan shalat
fardhunya."
Bagi
penuntut ilmu syar'i, shalat rawatib adalah sarana melatih stamina ruhiyah dan
pembiasaan adab sebelum memasuki shalat fardhu (qabliyah) serta sarana
memantapkan kekhusyukan selepas shalat fardhu (ba'diyah). Terkhusus dua
rakaat sebelum fajar (sunnah qabliyah Subuh), Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan nilainya: "Dua rakaat fajar lebih
baik daripada dunia beserta seluruh isinya."
Maka
sangat disayangkan apabila seorang santri di pesantren hanya mencukupkan diri
pada shalat wajib saja, lalu terburu-buru beranjak keluar masjid meninggalkan
shalat rawatib tanpa ada udzur syar'i yang mendesak. Santri sejati adalah
mereka yang senantiasa menabung bata-bata istananya di surga setiap hari
melalui dua belas rakaat rawatib ini.
Berikut ini tiga
pembiasaan rawatib di pesantren:
- Menjaga Dua Rakaat Qabliyah
Subuh Tanpa Putus: Membiasakan diri shalat sunnah fajar begitu
adzan Subuh selesai dikumandangkan.
- Mengambil Waktu Shalat
Sunnah Qabliyah dan Ba'diyah Zhuhur: Tidak menunda shalat sunnah hingga waktu
iqamah tiba atau terburu-buru pergi sebelum ba'diyah.
- Mendirikan Ba'diyah Maghrib
dan Isya dengan Tenang: Melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum
keluar masjid menuju ruang makan atau asrama.
3. Penutup & Ajakan (2 Menit)
Jangan
biarkan istana surga kita terbengkalai. Bangunlah istanamu setiap hari dengan
menjaga 12 rakaat shalat sunnah rawatib [18][17].
Allahumma
a'inna 'ala iqamatis sunan, wa thahhir qulubana minaz zalal. Ya Allah,
bimbinglah kami untuk istiqomah menjaga amalan sunnah rawatib dan bangunkanlah
untuk kami istana di surga-Mu.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment