Modul Pidato 89: Mengenal Akhlak Luhur Nabi Muhammad ﷺ Sebagai Teladan Hidup
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا
وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri pecinta sunnah
Rasulullah.
Suatu
ketika seorang pemuda tabi'in datang menemui Ibunda kaum mukminin, Aisyah
radhiyallahu 'anha, seraya bertanya: “Wahai Ummahatul Mukminin, kabarkanlah
kepadaku bagaimanakah akhlak Baginda Rasulullah ﷺ?”
Aisyah
radhiyallahu 'anha tidak memberikan jawaban teori yang panjang, melainkan
bertanya balik: “Bukankah engkau membaca Al-Qur'an?” Pemuda itu
menjawab: “Tentu, aku membacanya.”
Maka
Aisyah menegaskan sebuah kalimat abadi: “Kāna khuluquhul Qur'ān”
(Sesungguhnya akhlak Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur'an yang
berjalan di muka bumi).
Teman-teman sekalian yang berbahagia,
Allah SWT memuji keagungan budi pekerti
Rasulullah ﷺ di dalam Al-Qur'an:
﴿وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾
"Dan
sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang
agung." (QS.
Al-Qalam: 4)
Ayat di atas memberikan
penegasan mutlak bahwa Rasulullah ﷺ
berada di atas puncak keluhuran akhlak yang tidak dapat ditandingi oleh manusia
mana pun. Kata 'alā (dalam ayat di atas) menyiratkan bahwa keluhuran
budi pekerti telah menjadi watak alami yang menguasai dan menaungi seluruh
sikap, tutur kata, serta keputusan hidup Baginda Nabi ﷺ
dalam kondisi senang maupun tertekan.
Rasulullah
ﷺ menegaskan misi utama diutusnya beliau ke
muka bumi:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ
مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ»
"Sesungguhnya
tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab
Al-Mufrad, Malik, dan Ahmad)
Hadits
pembatasan (adatul hashr) “Innamā bu'itstu...” menjelaskan bahwa
puncak dari seluruh risalah syariat—mulai dari penegakan tauhid, peribadatan
shalat, puasa, zakat, hingga hukum-hukum muamalah—adalah untuk membuahkan
akhlak yang mulia. Ibadah yang tidak menghasilkan keluhuran adab dan kebersihan
hati merupakan ibadah yang kehilangan ruh utamanya. Kemuliaan akhlak Nabi ﷺ mencakup hubungan vertikal kepada Allah (hablun
minallah) melalui ketundukan total, serta hubungan horizontal (hablun
minannas) berupa kejujuran, kasih sayang kepada yang lemah, kesabaran
memaafkan orang yang berbuat zalim, dan kedermawanan yang tak pernah takut
miskin.
Bagi
santri penghafal Al-Qur'an di PP Cahaya Quran, meneladani akhlak Nabi adalah
tolok ukur keberhasilan belajar yang sesungguhnya. Hafalan ayat yang tersimpan
di dalam memori dada harus memancar nyata menjadi akhlak Al-Qur'an yang hidup: santun
dalam bertutur, tawadhu' dalam pergaulan, dan tangguh dalam menghadapi setiap
ujian hidup.
Teman-teman sekalian yang berbahagia,
Berikut ini tiga
langkah kongkrit yang bisa kita lakukan dalam rangka meneladani akhlak Rasulullah ﷺ di pesantren:
- Menjaga Lisan dari Perkataan
Kotor dan Mencela: Mencontoh Nabi ﷺ
yang tidak pernah berucap keji (fahisy), tidak melaknat, dan
senantiasa memilih kalimat yang menyejukkan hati pendengarnya.
- Murah Senyum dan Berwajah
Teduh:
Menghidupkan sunnah tersenyum saat berpapasan dengan guru dan teman di
lorong asrama maupun masjid.
- Membalas Kezaliman Teman
dengan Kebaikan:
Tidak menyimpan dendam ketika haknya terganggu, melainkan memilih jalan
memaafkan sebagaimana Nabi memaafkan penduduk Tha'if dan Makkah.
Teman-teman sekalian yang berbahagia,
Santri sejati bukan hanya mereka yang fasih melafalkan surah Al-Qur'an,
tetapi mereka yang menghidupkan akhlak Nabi Muhammad ﷺ dalam setiap detak
kehidupannya.
Allahumma
kamma hassanta khalqana fa hassin khuluqana, warzuqnat tiba'a nabiyyika
Muhammadin ﷺ zahiran wa bathinan. Ya Allah, indahkanlah
budi pekerti kami dan jadikanlah kami pengikut sejati jejak langkah Rasul-Mu.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment