Modul Pidato 91: Kecerdasan dan Kelembutan Hati Abdullah bin Abbas

Modul Pidato 91: Kecerdasan dan Kelembutan Hati Abdullah bin Abbas

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri penuntut ilmu Al-Qur'an.

Suatu hari, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma saat masih kanak-kanak menyiapkan air wudhu di malam hari untuk Rasulullah ﷺ tanpa diminta. Ketika Rasulullah ﷺ terbangun dan melihat air wudhu telah siap, beliau bertanya takjub: “Siapa yang menyiapkan ini?”

Para sahabat menjawab: “Ibnu Abbas.” Seketika itu Baginda Rasulullah ﷺ memeluk tubuh mungil Abdullah bin Abbas ke dadanya seraya memanjatkan doa agung yang mengubah jalannya sejarah peradaban ilmu Islam.

Rasulullah ﷺ mendoakan kepahaman ilmu tafsir bagi Abdullah bin Abbas:

«اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ»

"Ya Allah, fahamkanlah ia secara mendalam dalam urusan agama (Islam), dan ajarkanlah kepadanya ilmu ta'wil (tafsir Al-Qur'an)." (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Berkah dari doa kenabian ini, Abdullah bin Abbas digelari umat sebagai Turjumanul Qur'an (Juru Bicara Penafsir Al-Qur'an) dan Habrul Ummah (Samudera Tinta Keilmuan Umat).

Namun kecerdasan luar biasa Ibnu Abbas tidak diraih secara berpangku tangan. Beliau mengisahkan perjuangannya selepas wafatnya Nabi: beliau mendatangi rumah-rumah para sahabat senior untuk mengumpulkan riwayat hadits. Kerap kali beliau duduk bersandar menunggu di depan pintu rumah sahabat hingga angin padang pasir meniupkan debu menutupi wajahnya, demi mendapatkan satu riwayat hadits Nabi. Kelembutan hatinya, ketekunan adabnya kepada guru, dan kerendahan hatinya membuat Khalifah Umar bin Al-Khattab mendudukkannya di majelis musyawarah tertinggi negara sejajar dengan para sesepuh Perang Badar.

Keistimewaan Ibnu Abbas memadukan dua sayap utama seorang ulama: ketajaman logika ilmu (dzaka'un wa fiqh) dan kelembutan adab batiniah (riqqatul qalb wa tawadhu'). Beliau mampu berdebat menundukkan ribuan orang Khawarij dengan keluasan argumentasi ayat Quran, namun di saat yang sama beliau menangis tersedu-sedu saat merenungi ayat-ayat azab Allah.

Teman-teman sekalian yang berbahagia, tiga teladan Ibnu Abbas bagi santri PP Cahaya Quran:

  1. Peka Berkhidmat Melayani Kebutuhan Guru (Khidmah): Meniru Ibnu Abbas yang sigap menyiapkan air wudhu, membawakan sandal asatidz, atau merapikan meja guru dengan penuh takzim.
  2. Gigih Meneliti Makna Ayat Al-Qur'an: Tidak merasa puas hanya hafal lafalnya, melainkan berusaha memahami tafsir, kosa kata (mufradat), dan asbabun nuzul dari ayat yang dihafal.
  3. Memiliki Kesabaran Tinggi dalam Duduk Menuntut Ilmu: Tidak mudah merasa bosan atau mengeluh saat mengikuti kajian taklim dan halaqah tahsin yang panjang.

Teman-teman sekalian yang berbahagia,

Jadilah generasi penghafal Al-Qur'an yang mewarisi samudera ilmu dan kelembutan akhlak Abdullah bin Abbas.

Allahumma faqqihna fid din, wa 'allimnat ta'wil, waj'alna min ahlil 'ilmi wal 'amal. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kepahaman agama yang mendalam dan bimbinglah kami mentadabburi firman-Mu.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments