Modul Pidato 92: Membangun Cita-cita Setinggi Bintang di Langit (Himmatul 'Aliyah)

Modul Pidato 92: Membangun Cita-cita Setinggi Bintang di Langit (Himmatul 'Aliyah)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri pemburu derajat tertinggi di surga.

Sahabat mulia Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami radhiyallahu 'anhu senantiasa melayani dan membawakan air wudhu untuk Rasulullah ﷺ. Suatu malam, Rasulullah ﷺ yang sangat terharu dengan keikhlasannya bersabda: “Mintalah kepadaku sesuatu, wahai Rabi'ah!”

Jika pemuda lain mungkin akan meminta kebun kurma, unta merah, atau dinar emas, Rabi'ah menatap wajah Nabi lalu berkata lantang dengan cita-cita yang menggetarkan langit: “As-aluka muraafaqataka fil jannah!” (Aku hanya meminta kepadamu satu hal, wahai Rasulullah: jadikanlah aku pendampingmu di dalam surga Firdaus!).

Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk memiliki cita-cita dan target tertinggi dalam setiap doa dan permohonan:

«إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ؛ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ»

"Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mintalah surga Al-Firdaus; karena sesungguhnya Al-Firdaus adalah surga yang paling utama (tengah) dan surga yang paling tinggi derajatnya, di atasnya terdapat 'Arsy Dzat Yang Maha Pengasih, dan darinya memancar sungai-sungai surga." (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini meletakkan pondasi penting tentang Himmatul 'Aliyah (kemauan dan cita-cita yang menjulang tinggi) dalam mentalitas seorang muslim. Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat dan umatnya agar tidak pernah bermental kerdil, tidak puas dengan target-target yang biasa-biasa saja (danā'atul himmah), melainkan berani menargetkan puncak kebaikan tertinggi dalam urusan akhirat maupun duniawi. Surah Al-Firdaus berada persis di bawah naungan 'Arsy Allah; memintanya berarti menghubungkan cita-cita diri langsung kepada kemuliaan Dzat Yang Maha Akbar.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitab Shaidul Khatir menegaskan bahwa tanda kemuliaan akal seorang penuntut ilmu terletak pada tingginya cita-cita yang ia canangkan. Orang yang berjiwa kerdil akan mudah merasa puas hanya dengan bisa membaca Al-Qur'an sekadarnya, atau hafal beberapa juz juziyah lalu berhenti. Namun santri yang memiliki Himmatul 'Aliyah memandang bahwa dirinya harus menguasai 30 juz mutqin, mendalami ilmu qira'at, menguasai bahasa Arab, dan menjadi ulama pembimbing umat yang menerangi negerinya.

Cita-cita yang tinggi bukan sekadar angan-angan kosong (tamanni), melainkan tekad membara yang dibuktikan melalui kerja keras, bangun malam, menahan lelahnya mutaba'ah hafalan, dan mengorbankan waktu santai demi meraih keabadian pahala.

Tiga cara membangun Himmatul 'Aliyah di pondok pesantren:

  1. Mematok Target Mutqin 30 Juz Sebelum Lulus: Menolak target yang serba minimalis; pasang tekad kuat untuk menyelesaikan setoran hafalan Al-Qur'an 30 juz dengan lancar.
  2. Bercita-cita Melanjutkan Pendidikan ke Universitas Islam Dunia: Membakar semangat untuk menimba ilmu ke Madinah, Al-Azhar Mesir, atau kampus-kampus keislaman unggulan demi mendalami warisan para ulama.
  3. Mengikis Sikap Malas dan Rasa Cepat Puas: Menganggap setiap satu juz yang telah dihafal sebagai anak tangga pertama untuk menaiki tangga kemuliaan juz-juz berikutnya.

Gantungkanlah cita-citamu di surga Firdaus; ketika badanmu beristirahat di bumi, biarkan jiwamu terbang tinggi bersama cita-cita para nabi dan syuhada.

Allahumma inna nas-alukal firdausal a'la min ghairi hisabin wa la 'adzab. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cita-cita yang tinggi, himmah yang kokoh, dan tempatkanlah kami bersama para nabi di surga Firdaus-Mu.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments