Modul Pidato 94: Adab Berbicara di Depan Publik dengan Santun dan Menyejukkan

Modul Pidato 94: Adab Berbicara di Depan Publik dengan Santun dan Menyejukkan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri para calon dai penyeru kebenaran.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Musa 'alaihissalam dan saudaranya Nabi Harun untuk mendakwahi Fir'aun—manusia paling sombong dan tiran yang mengaku dirinya sebagai tuhan tertinggi—Allah tidak memerintahkan mereka membawa hardikan atau caci maki. Allah berfirman: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia menjadi ingat atau takut.”

Jika kepada musuh Allah yang paling zalim saja para nabi diperintahkan bertutur santun, betapa terlebih lagi ketika kita berpidato di hadapan saudara seiman dan kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan pentingnya menjaga kelembutan tutur kata dalam memikat hati manusia:

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ﴾

"Maka berkat rahmat dari Allah-lah engkau (wahai Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan nilai sedekah dari untaian kalimat yang baik:

«وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ»

"Dan perkataan yang baik (lemah lembut) itu adalah sedekah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat surah Ali 'Imran ini turun pasca peristiwa Perang Uhud, tatkala sebagian pasukan kaum muslimin melakukan kekeliruan fatal meninggalkan posisi mereka di atas bukit. Meski secara manusiawi kekeliruan itu sangat mengecewakan, Rasulullah ﷺ menyikapi para sahabatnya dengan tutur kata yang sangat santun dan dada yang lapang. Allah menegaskan bahwa seandainya seorang nabi yang maksum berorasi dengan kata-kata kasar dan mencela, niscaya manusia akan lari meninggalkannya (lanfadh-dhuu min hawlik).

Lebih jauh, hadits al-kalimatuth thayyibatu shadaqah menempatkan seni berbicara bukan sekadar transmisi informasi, melainkan ibadah finansial spiritual. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa setan senantiasa mencari celah dalam perbincangan manusia untuk memantik api perselisihan. Kata-kata yang pedas dan penuh arogansi saat berbicara di atas podium hanya akan melahirkan kebencian dan menutup pintu hidayah, sedangkan kalimat yang dipilih dengan penuh ketulusan, kesantunan, dan empati laksana embun sejuk yang menghidupkan tanah batiniah pendengarnya [8][13][2].

Bagi santri yang sedang berlatih muhadharah dan berpidato di PP Cahaya Quran, mimbar bukanlah sarana untuk menyindir kesalahan teman sekamar atau memamerkan keluasan wawasan secara sombong. Berpidato di depan publik adalah amanah dakwah yang menuntut intonasi yang tertata, pemilihan kosakata yang santun, serta niat tulus untuk menebar manfaat dan memperbaiki akhlak pendengarnya.

Tiga adab berbicara di depan umum bagi santri:

  1. Menghindari Kata-Kata Sarkasme dan Sindiran Personal: Jangan menjadikan kelemahan teman atau musyrif sebagai bahan lelucon di atas mimbar pidato.
  2. Menjaga Nada Bicara dan Sikap Tubuh: Berbicaralah dengan intonasi yang tegas namun tidak membentak, serta tatap mata audiens dengan senyuman dan pandangan penuh kasih sayang.
  3. Mengamalkan Isi Nasihat Terlebih Dahulu: Pastikan apa yang disampaikan di hadapan publik telah kita usahakan untuk diamalkan dalam kehidupan pribadi di asrama.

Kekuatan sebuah orasi bukan diukur dari kerasnya teriakan lisan, melainkan dari kedalaman santunnya kata-kata yang tembus ke lubuk sanubari.

Allahumma thawwil alsinatana bil hikmah, wa thahhir qulubana minar riya'. Ya Allah, hiasilah lisan kami dengan tutur kata yang santun dan jadikanlah perkataan kami sebagai pembuka pintu kebaikan bagi sesama.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments