Modul Pidato 95: Menjaga Integritas dan Nilai Kejujuran Saat Menghadapi Ujian

Modul Pidato 95: Menjaga Integritas dan Nilai Kejujuran Saat Menghadapi Ujian

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami hormati dan rekan-rekan santri pejuang integritas keilmuan.

Suatu hari Baginda Rasulullah ﷺ berjalan melewati tumpukan gandum di pasar. Beliau memasukkan tangannya ke dalam gandum tersebut, lalu jari-jemarinya merasakan basah di bagian dalam sementara luarnya tampak kering.

Ketika pedagang itu berdalih bahwa gandumnya basah karena terkena air hujan, Rasulullah ﷺ menegur dengan sabda yang menggetarkan sanubari: “Mengapa tidak engkau taruh yang basah di atas agar dilihat pembeli? Barang siapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami!”

Rasulullah ﷺ menegaskan hukum kecurangan dan kepalsuan dalam setiap urusan kehidupan:

«مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا»

"Barang siapa yang berbuat curang (menipu), maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang ketenangan kejujuran:

«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ»

"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu; karena sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan ketenangan batin, sedangkan kedustaan itu menimbulkan keraguan dan kegelisahan." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Sabda Nabi ﷺ “Man ghasysya fa laisa minnā” berbentuk umum (lafzhun 'aam) yang mencakup seluruh bentuk manipulasi dan kecurangan, baik dalam timbangan niaga, kepemimpinan, maupun dalam menuntut ilmu dan ujian sekolah. Kalimat laisa minnā merupakan kalimat ancaman keras (wa'id syadid) yang bermakna pelakunya telah menyimpang dari jalan, petunjuk sunnah, dan karakteristik akhlak kaum mukminin sejati. Menyontek lembar jawaban atau membawa catatan terlarang saat ujian adalah perbuatan dosa besar yang mencemari kesucian ilmu syar'i.

Para ulama menegaskan bahwa keberkahan ilmu agama terletak pada cara bagaimana ilmu tersebut diraih. Nilai angka seratus yang didapatkan dari hasil menyontek atau mencuri jawaban teman pada hakikatnya adalah kebohongan publik yang melahirkan kehinaan diri (khibatsatul bāthin). Orang yang terbiasa curang di bangku madrasah akan tumbuh menjadi pribadi yang berani korupsi, memalsukan data, dan berkhianat ketika kelak memegang jabatan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, nilai pas-pasan yang didapatkan dengan cucuran keringat kejujuran membawa ketenangan jiwa yang hakiki (thuma'niinah) dan mengundang berkah taufiq dari Allah SWT. Ujian pondok bukan sekadar menguji ingatan otak, melainkan sedang menguji keimanan dan rasa pengawasan kita kepada Allah (muraqabatullah).

Tiga komitmen kejujuran santri saat pekan ujian:

  1. Belajar Maksimal dan Bertawakkal Penuh: Memanfaatkan hari-hari sebelum ujian untuk mutaba'ah dan mudzakarah kitab, bukan mengandalkan spekulasi atau teman di ruang ujian.
  2. Menjaga Pandangan Tetap pada Lembar Soal Sendiri: Tidak melirik ke meja kawan, tidak berbisik memberi/meminta kode jawaban, dan tidak menyelipkan contekan di saku baju.
  3. Bangga dan Ridha dengan Hasil Usaha Sendiri: Menerima nilai berapapun dengan lapang dada sebagai bahan evaluasi belajar, seraya bersyukur karena tidak mengotori diri dengan kecurangan.

Lebih terhormat meraih nilai rendah dengan kejujuran yang mulia daripada mengantongi angka sempurna dengan cara mencoreng kehormatan santri Quran.

Allahummarzuqnas shidqa fil aqwali wal a'mal, wa jannibnal khiyanata wal ghisy. Ya Allah, tanamkanlah kejujuran dalam setiap langkah belajar kami dan jauhkanlah kami dari kehinaan berbuat curang.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments