Modul Pidato 96: Menghargai Perbedaan Pendapat di Antara Teman

Modul Pidato 96: Menghargai Perbedaan Pendapat di Antara Teman

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan serta rekan-rekan santri yang berjiwa ksatria.

Selepas Perang Ahzab, Rasulullah ﷺ menginstruksikan para sahabat: “Jangan sekali-kali ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah!” Di tengah perjalanan, waktu Ashar hampir habis.

Sebagian sahabat berhenti mendirikan shalat di jalan karena memahami maksud Nabi adalah perintah bersegera, sementara sebagian lain menolak shalat sebelum tiba di Bani Quraizhah karena berpegang pada teks sabda beliau secara harfiah. Ketika peristiwa ini dilaporkan, Rasulullah ﷺ membenarkan kedua kelompok tersebut dan tidak mencela salah satu pun di antara mereka [37].

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ijtihad yang dilakukan dengan niat mencari kebenaran tetap bernilai pahala di sisi Allah:

«إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ»

"Apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara lalu ia berijtihad dan benar, maka ia mendapatkan dua pahala; dan apabila ia memutuskan perkara lalu berijtihad dan keliru, maka ia tetap mendapatkan satu pahala." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [38][39]

Rasulullah ﷺ juga berpesan saat mengutus sahabat Mu'adz dan Abu Musa al-Asy'ari ke Yaman:

«تَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا، وَيَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا»

"Saling patuhilah kalian berdua, jangan berselisih (bertengkar), permudahlah dan jangan mempersulit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [40]

Para ulama ushul fiqih membedakan secara tegas antara perbedaan pendapat dalam masalah pokok akidah dengan perbedaan pemahaman dalam cabang fiqih dan furu'iyah. Dalam perkara cabang yang teks dalilnya membuka ruang penafsiran, perbedaan pemahaman adalah hal yang alami dan merupakan bagian dari kelapangan serta kekayaan syariat Islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahkan berkata: “Aku tidak suka seandainya para sahabat Nabi tidak berbeda pendapat, sebab jika mereka tidak berbeda pendapat, manusia akan berada dalam kesempitan.”

Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal saling berbeda pendapat dalam ratusan rincian masalah fiqih, namun kedua raksasa ilmu ini saling memuji, saling mendoakan di sepertiga malam, dan menjaga cinta kasih persaudaraan yang utuh. Kaidah emas para ulama salaf menyatakan: “Ra'yuna shawab yahtamilul khatha', wa ra'yu ghairina khatha' yahtamilus shawab” (Pendapat kami kami anggap benar namun ada kemungkinan keliru, sedangkan pendapat orang lain kami pandang keliru namun ada kemungkinan benar).

Kerap kali di lingkungan santri muncul perdebatan sengit mengenai masalah fiqih ringan—seperti doa qunut subuh, posisi tangan sedekap, atau bilangan rakaat shalat sunnah—yang berujung pada permusuhan dan saling memboikot kamar. Perpecahan hati akibat perbedaan furu'iyah adalah jebakan setan yang merusak bangunan ukhuwah islamiyyah. Santri yang matang ilmunya akan melapangkan dadanya terhadap ikhtilaf ulama yang muktabar.

Tiga adab menyikapi perbedaan pendapat di pesantren:

  1. Tidak Menghakimi atau Membid'ahkan Pendapat Muktabar: Jika kawan mengamalkan fatwa yang memiliki sandaran dalil dari mazhab fiqih yang diakui, hargailah tanpa mencela atau menyudutkannya.
  2. Berdiskusi dengan Adab dan Hati Dingin: Jadikan forum mudzakarah sebagai sarana bertukar dalil untuk mencari kebenaran (tholabul haqq), bukan adu gengsi untuk memenangkan perdebatan.
  3. Mengutamakan Ikatan Persaudaraan di Atas Segalanya: Jangan biarkan perbedaan cara bersedekap atau sudut pandang meniadakan salam, senyuman, dan kebersamaan saat makan bersama.

Perbedaan sudut pandang mengasah kedewasaan akal, namun kesatuan hati adalah kewajiban agama yang tak boleh ditawar.

Allahumma allif baina qulubina wa ashlih dzata bainina, wahdina subulas salam. Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas tali persaudaraan dan lapangkanlah dada kami dalam memahami perbedaan.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments