Modul Pidato 97: Peran Santri Cahaya Quran dalam Menebarkan Kebaikan kepada Ummat
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ
نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Dewan
asatidz yang kami hormati dan seluruh santri para penebar rahmat bagi semesta.
Rasulullah
ﷺ membuat sebuah permisalan indah tentang
tetesan air hujan yang turun membasahi bumi: “Permisalan petunjuk dan ilmu
yang Allah utus diriku membawanya laksana hujan lebat yang menyiram tanah bumi.
Sebagian tanah itu ada yang subur dan gembur; ia menyerap air tersebut lalu
menumbuhkan rerumputan dan tanaman obat yang lebat bagi manusia. Sebagian tanah
ada yang keras namun menampung air di cekungannya, sehingga manusia datang
mengambil minum, mengairi ladang, dan memberi minum hewan ternaknya.”
Santri
penghafal Quran harus menjadi tanah subur yang menumbuhkan kemanfaatan bagi
kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Rasulullah
ﷺ menegaskan manusia yang paling dicintai
Allah dalam sabda beliau:
«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
"Manusia
yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi
manusia lainnya." (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath)
Rasulullah
ﷺ juga bersabda tentang kemuliaan
mengajarkan kalamullah:
«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
"Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya (kepada orang
lain)." (HR.
Al-Bukhari)
Sabda
Nabi ﷺ “Anfa'uhum lin naas” tidak membatasi
kemanfaatan pada aspek materi kekayaan saja. Kemanfaatan tertinggi yang dapat
dipersembahkan seorang hamba adalah menyelamatkan manusia dari kegelapan
kebodohan menuju terangnya hidayah wahyu, membimbing mereka shalat yang benar,
dan mengajarkan tilawah Al-Qur'an yang fasih. Nilai eksistensi seorang santri
diukur dari seberapa besar aliran kebaikan yang mengalir dari tangannya kepada
sesama.
Hadits “Khairukum
man ta'allamal Qur'aana wa 'allamah” menggabungkan dua fase kesempurnaan
seorang penuntut ilmu: fase menerima (takammul) melalui proses belajar
menghafal, dan fase memberi (ikmal) melalui proses dakwah dan
pengajaran. Ilmu Al-Qur'an yang kita kaji di PP Cahaya Quran bukan untuk
disimpan menjadi aset pribadi, melainkan amanah peradaban yang harus dialirkan
kembali ke masjid-masjid kampung, musala pedesaan, dan majelis ta'lim di tengah
masyarakat.
Santri
bukanlah menara gading yang terasing dari problem umat. Di era modern ini,
masyarakat sangat haus akan keteladanan moral, kejujuran, dan bimbingan
spiritual. Santri Cahaya Quran harus hadir menjadi duta kebaikan yang membawa
kedamaian, menghilangkan keresahan masyarakat, serta menjadi benteng pertahanan
akidah umat dari serangan fitnah zaman.
Tiga
peran praktis santri menebar manfaat:
- Mengajarkan Tajwid dan Iqra'
Saat Pulang Liburan: Mengabdikan waktu luang liburan pondok untuk
mengajar ngaji anak-anak dan remaja di musala kampung halamannya.
- Menjadi Pelopor Kebersihan
dan Ketertiban Sosial: Mencontohkan kebiasaan baik pondok—seperti
gotong royong, menjaga kebersihan lingkungan, dan membuang sampah pada
tempatnya—di lingkungan tempat tinggal.
- Mengisi Kekosongan Imam dan
Muadzin di Masyarakat: Tampil percaya diri menjadi muadzin dan imam
shalat fardhu dengan bacaan tartil saat berada di tengah keluarga dan
warga sekitar.
Jadilah
laksana lampu yang
menyala menerangi jalan orang lain tanpa membakar dirimu sendiri. Tebarkan
aroma wangi Al-Qur'an di mana pun kakimu berpijak.
Allahummaj'alna
miftahan lil khair mighlaqan lisy syarr. Ya Allah, jadikanlah kami para pembuka
pintu-pintu kebaikan, penutup pintu-pintu keburukan, dan jadikanlah kehadiran
kami bermanfaat bagi umat.
Wabillahi
taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Comments
Post a Comment