Modul Pidato 98: Menjadi Generasi Tangguh yang Pantang Menyerah Menghadapi Rintangan

Modul Pidato 98: Menjadi Generasi Tangguh yang Pantang Menyerah Menghadapi Rintangan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan sahabat-sahabat santri pejuang kesabaran tanpa batas.

Seorang ulama besar bernama Ibnu Nuqathah mengisahkan bagaimana perjuangan Imam Abu Hatim ar-Razi saat menuntut ilmu hadits. Beliau berjalan kaki mengelilingi berbagai negeri hingga menempuh lebih dari seribu farsakh (ribuan kilometer).

Ketika bekalnya habis, beliau merobek pakaiannya sendiri untuk ditukarkan dengan secuil roti kering, dan minum air dari genangan lembah padang pasir. Namun tidak pernah sekali pun terlintas di dalam hatinya rasa putus asa atau keinginan untuk mundur dari jalan ilmu. Rintangan hanya semakin mengasah ketangguhan jiwanya.

Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk menjadi pribadi mukmin yang bermental tangguh dan pantang menyerah:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»

"Orang mukmin yang kuat (tangguh jiwa, mental, dan imannya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali engkau bersikap lemah (putus asa/menyerah)!" (HR. Muslim)

Allah SWT juga berfirman menegaskan kemudahan di balik kesulitan:

﴿فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾ "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5)

﴿إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾ "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Sabda Nabi ﷺ “Al-mu'minul qawiyyu” tidak hanya berbicara tentang kekuatan otot fisik semata, melainkan kekuatan azam tekad (quwwatul 'aziimah), keteguhan mental dalam menghadapi ujian, dan ketabahan saat memikul beban hafalan Al-Qur'an. Kata larangan “wa laa ta'jaz” adalah pukulan telak bagi mentalitas cengeng yang mudah menyerah. Al-'ajz adalah rasa ketidakberdayaan yang timbul karena kemalasan dan keputusasaan sebelum perjuangan tuntas diperjuangkan.

Di dalam surah Al-Insyirah, Allah mengulang janji-Nya dua kali berturut-turut: kata kesulitan (al-'usr) berbentuk isim ma'rifah (pasti dan terbatas), sedangkan kata kemudahan (yusraa) berbentuk isim nakirah (berlipat ganda tanpa batas). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengomentari ayat ini: “Satu kesulitan tidak akan pernah mampu mengalahkan dua kemudahan yang berlipat ganda.” Setiap letihnya duduk menghafal, setiap teguran dari asatidz, dan setiap rasa lapar saat antre makan adalah pupuk yang menyuburkan ketangguhan karakter santri.

Bukan santri namanya jika baru ditegur pengurus kamar langsung menangis minta pulang ke rumah orang tua. Bukan penghafal Al-Qur'an namanya jika baru lupa hafalan satu juz langsung merasa putus asa dan berhenti berjuang. Pesantren mendidik kita menjadi baja yang tahan banting di tengah tungku peradaban zaman.

Tiga sikap tangguh santri menghadapi rintangan di pondok:

  1. Bangkit Mengulang Hafalan yang Macet: Jika ayat yang dihafalkan terasa sulit di luar kepala, bacalah empat puluh kali dengan penuh kesabaran hingga lidah menjadi fasih.
  2. Menjadikan Teguran Musyrif Sebagai Cambuk Perbaikan: Jangan berkecil hati saat dinasihati atau dihukum karena pelanggaran disiplin; jadikan itu sebagai sarana pelebur dosa dan pematangan mental.
  3. Mengubah Rasa Rindu Rumah Menjadi Doa: Tumpahkan rindu kepada orang tua dalam sujud panjang di sepertiga malam terakhir, seraya memohon agar Allah menjadikan perjuangan ini sebagai amal jariyah bagi ayah ibu.

Pelaut yang handal tidak lahir dari laut yang tenang; santri yang agung lahir dari ombak ujian yang ia taklukkan dengan sabar dan tawakkal.

Allahumma la sahla illa ma ja'altahu sahla, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahla. Ya Allah, tiada kemudahan selain apa yang Engkau jadikan mudah, mudahkanlah langkah perjuangan kami dan jangan jadikan kami santri yang berputus asa.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments