Modul Pidato 99: Istiqomah di Atas Kebaikan: Tantangan Sejati Penuntut Ilmu

Modul Pidato 99: Istiqomah di Atas Kebaikan: Tantangan Sejati Penuntut Ilmu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Dewan asatidz yang kami muliakan dan sahabat santri pejuang keistiqomahan iman.

Seorang sahabat mulia bernama Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu datang memohon kepada Nabi ﷺ dengan penuh ketulusan: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang membuatku tidak perlu lagi bertanya kepada seorang pun setelah engkau!”

Rasulullah ﷺ menatapnya lalu memberikan wasiat yang sangat padat dan ringkas, merangkum seluruh fondasi syariat dari awal hingga akhir: “Qul aamantu billaahi tsummastāqim” (Katakanlah: 'Aku beriman kepada Allah', lalu beristiqomahlah di atas jalan keimanan tersebut!).

Allah swt menjanjikan pertolongan malaikat dan surga bagi mereka yang berpegang teguh pada keistiqomahan:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fushshilat: 30)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan nilai amalan yang istiqomah:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten (rutin dilakukan secara terus-menerus), meskipun jumlahnya sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu mendefinisikan hakikat istiqomah dengan perkataannya yang tajam: “Al-istiqāmatu an tastaqīma 'alal amri wan nahyi, wa laa tarūgha rawaghānats tsa'ālib” (Istiqomah adalah engkau berdiri tegak lurus di atas perintah dan larangan Allah, dan tidak berkelit-kelit mencari celah kemaksiatan laksana kelicikan musang/rubah). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menambahkan kaidah terkenal: “A'zhamul karaamah luzuumul istiqāmah” (Karomah kemuliaan terbesar seorang hamba bukanlah terbang di udara atau berjalan di atas air, melainkan kemampuannya untuk teguh istiqomah di atas sunnah hingga ajal menjemput).

Ujian terberat seorang penuntut ilmu bukanlah saat ia memulai menghafal Al-Qur'an dengan penuh semangat membara, melainkan menjaga hafalan tersebut agar tidak lepas sepanjang hayatnya. Menambah hafalan baru (ziyadah) itu mudah, namun memelihara hafalan lama (muraja'ah) menuntut keistiqomahan batin yang luar biasa. Banyak orang mampu beribadah giat selama satu atau dua pekan, namun hanya sedikit yang mampu merutinkan tilawah satu juz setiap hari selama bertahun-tahun tanpa terputus.

Hadits Nabi ﷺ membimbing kita pada prinsip kontinuitas (ad-dawam). Tetesan air yang jatuh terus-menerus pada titik yang sama akan mampu melubangi batu karang yang paling keras, sementara air bah yang datang deras sesaat lalu menghilang tidak akan meninggalkan bekas selain lumpur yang kotor. Demikianlah amal kebaikan santri yang istiqomah: amalan harian yang terjaga akan membentengi jiwa dari kehancuran akhir zaman.

Tiga pilar istiqomah bagi santri PP Cahaya Quran:

  1. Menjaga Target Tilawah dan Muraja'ah Harian: Menetapkan wirid harian minimal (misalnya satu juz tilawah dan setengah juz muraja'ah) yang wajib diselesaikan setiap hari dalam kondisi apa pun.
  2. Memilih Sahabat yang Menjaga Semangat Ibadah: Bergaul erat dengan teman-teman yang saling mengingatkan shalat berjamaah dan saling menyimak hafalan.
  3. Memperbanyak Doa Keteguhan Hati: Merutinkan doa yang senantiasa dibaca oleh Baginda Nabi ﷺ: “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala diinik” (Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Memulai kebaikan adalah pilihan, namun bertahan di atasnya hingga hembusan nafas terakhir adalah kemenangan sejati.

Allahumma ya muqallibal qulub, tsabbit qulubana 'ala diinik wa 'ala tha'atik. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keistiqomahan dalam menjaga Al-Qur'an dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Comments