Pepatah Arab mengatakan, "Keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lisan." Lisan (lidah) adalah anggota tubuh yang ukurannya sangat kecil, tidak bertulang, dan sangat mudah digerakkan. Namun, dari organ kecil inilah sering kali bermula pahala yang menggunung atau dosa yang membinasakan.
Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Beliau menjawab dengan tegas: "Mulut (lisan) dan kemaluan." (HR. Tirmidzi).
Di era modern, "lisan" tidak lagi hanya berupa ucapan yang keluar dari mulut, tetapi juga bentuk ketikan jari di media sosial. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk mewaspadai tiga penyakit lisan yang paling merusak amal ibadah dan tatanan sosial, yaitu: Ghibah, Namimah, dan Dusta.
1. Ghibah (Menggunjing atau Membicarakan Keburukan Orang Lain)
Secara bahasa, ghibah berarti menggunjing. Rasulullah SAW mendefinisikan ghibah sebagai: "Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang ia tidak menyukainya."
Ketika seorang sahabat bertanya, "Bagaimana jika yang aku katakan itu benar-benar ada padanya?" Rasulullah menjawab, "Jika apa yang kau katakan itu benar, maka engkau telah berbuat ghibah. Namun jika itu tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya." (HR. Muslim).
Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 12:
"Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."
Ghibah menghancurkan ukhuwah dan sering kali menjadi kebiasaan yang tidak disadari saat sedang berkumpul santai bersama teman-teman.
2. Namimah (Adu Domba)
Jika ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain, namimah adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan niat untuk merusak hubungan dan memicu permusuhan (adu domba).
Di era digital, namimah sangat mudah terjadi melalui fitur screenshot (tangkapan layar) pesan pribadi yang disebarkan kepada pihak ketiga untuk memanaskan suasana. Pelaku namimah mungkin merasa dirinya hebat karena memegang banyak rahasia dan bisa mengendalikan konflik, namun ancaman Allah sangatlah berat.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang suka melakukan namimah (adu domba)." (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, pelaku namimah adalah salah satu golongan yang akan mendapatkan siksa kubur yang sangat pedih.
3. Dusta (Berbohong)
Dusta atau berbohong adalah menyalahi kenyataan yang sebenarnya. Dusta adalah induk dari segala kejahatan. Seseorang yang berbohong biasanya akan menciptakan kebohongan-kebohongan baru untuk menutupi kebohongan pertamanya.
Rasulullah SAW memperingatkan:
"Jauhilah kebohongan, karena kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan kepada neraka. Dan seseorang senantiasa berbohong dan mencari-cari kebohongan, hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari dan Muslim).
Menyebarkan berita bohong (hoaks) yang belum jelas kebenarannya, melebih-lebihkan cerita agar terlihat hebat, atau berbohong dengan dalih bercanda, semuanya termasuk dalam kategori dusta yang harus dihindari.
Membangun Budaya Menjaga Lisan di Lingkungan Pesantren
Menjaga lisan dari ghibah, namimah, dan dusta bukanlah perkara yang bisa diselesaikan hanya dengan nasihat sesekali. Ia membutuhkan pembiasaan, lingkungan yang saling mengingatkan, dan pengendalian diri yang kuat.
Di Pondok Pesantren Cahaya Qur'an Babat, edukasi mengenai bahaya penyakit lisan ini menjadi fokus penting dalam keseharian asrama. Melalui Buku Pedoman Penanaman Karakter, santri diajarkan tidak hanya tentang adab berbicara secara langsung, tetapi juga etika pergaulan dan komunikasi di era informasi. Ketika para santri berinteraksi dan mengelola dinamika sosial mereka, para mentor asrama senantiasa mendampingi agar ruang lingkup pertemanan tersebut bersih dari budaya toxic seperti menggunjing atau menyebar rumor.
Membiasakan diri menahan komentar yang tidak perlu dan mengubah budaya "asal bicara" menjadi "berpikir sebelum berucap" adalah ikhtiar nyata kita untuk mencetak generasi yang lisan dan jarinya selalu membawa kesejukan bagi umat. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
Draf artikel ini sudah siap digunakan! Silakan Bapak berikan instruksi untuk judul berikutnya.
Comments
Post a Comment